(Surabaya – MAN Kota Surabaya) Di bawah langit Surabaya yang mulai meredup pada Kamis sore (26/2/2026), koridor Madrasah Aliyah NegeriKota Surabaya tidak sunyi seperti biasanya. Ada 400 orang siswa kelas XI duduk bersimpuh, meluruhkan ego di atas sajadah. Tak ada pendar cahaya dari layar gawai di tangan mereka; yang ada hanyalah gema selawat dan deru napas yang teratur dalam kekhusyukan.

Pondok Ramadhan gel 2 yang digelar pada 26–27 Februari 2026 ini bukan sekadar rutinitas kalender akademik. Ia adalah sebuah jeda spiritual—sebuah upaya menghentikan laju duniawi demi mengejar pemahaman yang lebih hakiki tentang eksistensi diri dan pengabdian kepada Ilahi.

Kegiatan dibuka dengan sebuah pesan bernas dari Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Surabaya, Agus Yulianto. Beliau menyampaikan pesan yang tidak hanya bicara soal angka atau prestasi, melainkan hakikat ilmu.

Sambutan Oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Surabaya, Bapak Agus Yulianto

“Ilmu itu samudera yang tak bertepi, sementara cawan kemampuan kita sangat terbatas,” ujar Bapak Agus Yulianto. Menimba ilmu di bulan Ramadhan adalah proses penyucian bejana diri. Sebelum diisi dengan pengetahuan, hati harus terlebih dahulu dikosongkan dari kesombongan.

Agus menekankan pentingnya mengenali diri sendiri (ma’rifatun nafs) sebelum menguasai dunia. Baginya, setiap siswa adalah pemimpin masa depan di bidangnya masing-masing, namun kepemimpinan tanpa pengenalan potensi diri hanya akan melahirkan arah yang keliru.

Memandikan Jenazah dan Membedah Makna Takdir

Kedalaman materi menjadi pembeda dalam Pondok Ramadhan kali ini. Siswa tidak hanya diajak melangit dengan doa, tapi juga membumi dengan realitas kematian melalui praktik pemulasaran jenazah yang dipandu Ustadzah Nur Rosyidah, S.Pd.

Bagi Barak Hasid Nurrahim, siswa kelas XI-A, momen mengkafani jenazah adalah titik balik emosional. “Selama ini kematian terasa jauh. Hari ini, saya menyentuh kain kafan itu secara langsung. Ada kesadaran bahwa ilmu yang paling nyata adalah yang mempersiapkan kita untuk kembali,” tuturnya lirih. Inilah manifestasi ilmu yang diamalkan: sebuah bekal untuk berkhidmat di tengah masyarakat.

Praktik Mensholatkan Jenazah Oleh Para Siswa

Saat matahari mulai condong ke ufuk barat, suasana semakin magis ketika Ustadz Fajrul Ridho membedah kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah Askandari. Di sinilah analisis tauhid diperdalam. Bapak Fajrul mengingatkan para siswa bahwa bersandar pada usaha semata adalah bentuk halus dari syirik tersembunyi.

“Tanda seseorang terlalu bergantung pada usahanya adalah berkurangnya harapan kepada Allah saat terjadi kegagalan,” kutip Bapak Fajrul dari bait Al-Hikam.

Pesan yang muncul dalam kitab ini sangat tajam. Manusia wajib berikhtiar dengan maksimal. Namun, hasil adalah wilayah prerogatif Tuhan. Hal ini mengajarkan siswa untuk tetap tangguh dalam bekerja namun tetap rendah hati dalam keberhasilan. Analisis ini membawa pemahaman bahwa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup pun, jika diniatkan dengan benar akan menjadi ibadah yang setara dengan zikir di atas sajadah.

Meski jarum jam seolah bergerak lebih lambat di bawah langit senja yang mulai meredup. Namun, bagi ratusan santri yang berkumpul di pelataran itu, waktu bukan lagi sekadar angka, melainkan ruang tunggu menuju sebuah kemenangan kecil. Di detik-detik krusial menjelang azan Maghrib, suasana khidmat menyeruak saat lantunan salawat yang dipimpin Ibu Nyai Dzurriyatun Najah membelah kesunyian, mengantarkan kerinduan kolektif akan berkah Sang Pencipta.

Ritual Kebersamaan dan Seni Mengabdi

Buka puasa di sini bukan sekadar perkara membatalkan dahaga. Ada pemandangan menarik saat perwakilan siswa dengan sigap mengambil takjil, sebuah simbol distribusi tanggung jawab dan kepedulian. Begitu azan berkumandang, kemeriahan yang subtil pecah. Bukan sorak-sorai yang riuh, melainkan kehangatan yang terpancar dari gerak bersama menikmati hidangan sederhana.

Usai membasuh diri dalam ruku dan sujud Maghrib berjemaah, para siswa kembali ke kelas masing-masing. Di ruang-ruang kelas itulah, “kurikulum kehidupan” yang sesungguhnya dipraktikkan. Makan malam bersama berubah menjadi ajang kerja sama; ada yang berbagi tempat, ada yang membereskan sisa makanan, diselingi canda ringan yang merekatkan kohesi sosial. Inilah perwujudan nyata dari konsep ukhuwah (persaudaraan) yang tidak hanya diteorikan di atas meja belajar.

Malam tidak lantas membuat mereka terlelap dalam kantuk. Gema tadarus Al-Quran setelah Tarawih menjadi bukti bahwa bulan Ramadhan adalah bulan literasi langit. Pembagian ayat-ayat suci antar-siswa mencerminkan bahwa ilmu pengetahuan tidak untuk dikuasai secara individualistik, melainkan sebagai sebuah simfoni kolektif yang saling melengkapi.

Puncaknya, setelah sahur dan Subuh yang dingin, mereka tidak kembali ke balik selimut. Mereka justru bersimpuh menyimak kajian kitab Diwan Syafi’i yang diampu oleh Ustadz Mardwi Asdiyanto. Di sinilah letak kedalaman filosofi menimba ilmu dalam tradisi pesantren:

Penyampaian Materi Kitab Kuning Oleh Ustadz Dion

“Ilmu di bulan Ramadhan bukanlah sekadar transfer informasi, melainkan proses ‘riyadhah’ atau olah jiwa. Menimba ilmu ibarat mengambil air di sumur yang jernih; ia bertujuan untuk membersihkan bejana batin manusia agar mampu memantulkan cahaya Tuhan dalam perilaku sehari-hari.

“Esensi dari rangkaian ibadah ini bukan terletak pada seberapa fasih mereka membaca Diwan Syafi’i, melainkan bagaimana bait-bait hikmah Imam Syafi’i tersebut diterjemahkan dalam realitas sosial. Menimba ilmu di bulan Ramadhan memiliki beban moral yang lebih berat: Amal.

Ilmu tanpa amal adalah pohon yang tak berbuah (al-ilmu bila ‘amalin kasyajari bila tsamarin). Ketaatan mereka bangun saat fajar, kedisiplinan mengaji, dan kerja sama saat berbuka adalah simulasi kecil untuk menghadapi dunia yang lebih luas. Pesan moralnya tajam: apa yang mereka pelajari di dalam kelas selama Ramadhan harus menjadi “kompas” moral saat mereka kembali ke masyarakat.

Memutus Jarak, Mempererat Silaturahmi

Ada pemandangan menarik selama dua hari tersebut. Pihak madrasah memutuskan untuk menyimpan seluruh gawai milik siswa. Kebijakan ini, yang awalnya dikhawatirkan memicu keresahan, justru melahirkan kehangatan yang telah lama hilang akibat digitalisasi.

“Seru banget. Karena HP diambil, suasana kekeluargaan justru terasa. Kami benar-benar mengobrol, bukan saling diam menatap layar,” kata Baraq.

Inilah esensi dari hablum minannas (hubungan antarmanusia). Ramadhan di MAN Kota Surabaya menjadi momentum untuk merajut kembali silaturahmi yang sempat renggang oleh sekat-sekat teknologi.

Drs. H. Fathorrakhman, M.Pd, selaku pimpinan madrasah, memandang bahwa Pondok Ramadhan ini adalah kawah candradimuka karakter. Menimba ilmu di bulan suci bukan sekadar transfer informasi dari guru ke murid, melainkan proses “menanam” nilai yang diharapkan akan berbuah pada perilaku sehari-hari pasca-Ramadhan.

Tilawah Al-Qur’an Oleh Ustadz Alie Mudzakkir

Pada akhirnya, Pondok Ramadhan MAN Kota Surabaya menegaskan sebuah pesan fundamental: Ilmu pengetahuan tanpa spiritualitas adalah buta, dan spiritualitas tanpa ilmu adalah hampa. Melalui zikir, kajian kitab kuning, hingga praktik kemanusiaan, para siswa diajak untuk tidak hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga tajam secara nurani dan tangkas dalam mengabdi.

Kepenulisan: Larasati Pitaloka (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Dokumentasi: Farida, Safina Maulia (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Reporter: Fayruz Chalissa, Ajilah (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Desain: Taufiq (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Editor: Wiji Laelatul Jum’ah (Humas, Pembina Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *