#kankemenagkotasurabaya#
#mankotasurabaya#
#hadirsebagaiinspirasi#
(Surabaya – MAN Kota Surabaya) Sebuah pemandangan hening spiritual menyelimuti Masjid Kanzul Hikmah MAN Kota Surabaya pada Jum at (31/10/2025). Ada 1241 hati, dari siswa berseragam hingga guru yang mengajarinya makna hidup, melebur dalam doa. Ini bukan sekadar ritual jelang ujian, melainkan perwujudan filosofi terdalam bahwa perjalanan hidup, seberat apa pun tantangannya, harus diiringi ikhtiar akal dan kepasrahan jiwa.
Pukul 07.10 WIB, Jumat (31/10/2025), lebih dari 1.200 jiwa berkumpul. Kegiatan ini merupakan untaian doa bersama untuk mengiringi siswa kelas XII yang bersiap menghadapi Ujian Tes Kompetensi Akademik (TKA) tingkat nasional secara serentak pada 3-6 November 2025, besok.

Lantunan doa yang dipimpin oleh Bapak Alie Mudzakkir dan para siswa aktivis takmir masjid Kanzul Hikmah MAN Kota Surabaya
Jauh sebelum doa dipanjatkan, siswa-siswa ini telah menjalani tempaan panjang. Mereka digembleng, dibekali ilmu, dan diasah nalar kritisnya oleh guru – guru mereka yang penuh dedikasi. Perjalanan ini merupakan pengejawantahan dari proses belajar itu sendiri. Proses tak lain adalah upaya manusia untuk menyingkap tabir kegelapan, memperluas wawasan, dan menunaikan amanah akal yang diberikan Tuhan.
Bagi para guru, proses menggembleng bukan hanya soal kurikulum, melainkan menanamkan keyakinan bahwa setiap tetes keringat saat belajar adalah sebuah investasi etika dan intelektual.
“Belajar adalah tugas kita di bumi, sebuah pertanggungjawaban nalar. Kami menyiapkan mereka untuk unggul secara akademik, namun yang lebih penting, kami menyiapkan mereka untuk menjadi manusia yang utuh,” ujar salah satu guru senior dengan tatapan penuh harap.
Setelah ikhtiar akal tuntas, tibalah saatnya ikhtiar jiwa. Doa bersama yang didahului dengan shalat Dhuha ini menjadi momen krusial. Di bawah panduan Ustadz Ali Muddzakir, Ustadz Umar Faruk, dan Ustadz Suwar, bersama tim Takmir masjid Kanzul Hikmah, doa pun dilantunkan dengan khusu dan penuh harap.
”Doa yang mustajabah adalah doa yang kalian ucapkan sendiri, berikutnya adalah restu dan doa orangtua dan guru-guru kalian, ” kata Ustadz Umar Faruk saat membersamai para siswa dalam doa bersama.
Para siswa kelas XII terlihat serius dan khusyu dalam berdoa, mereka semua berharap agar upaya yang dikerjakan sebelum menghadapi TKA memberikan hasil yang baik. Di tahun pertama diselenggarakan TKA ini, MAN Kota Surabaya mewajibkan seluruh siswa kelas XII untuk mengikuti TKA.

Setelah sholat dhuha berjamah dan tadarus bersama, para siswa khusyu langitkan doa
Revalina, siswa kelas XII A, menyampaikan rasa syukur dan harunya dalam pelaksanaan doa bersama.”Dengan adanya doa bersama ini merupakan ikhtiar bersama. Saya terharu juga, karena yang berdoa bukan hanya kelas XII aja Bu akan teapi semua guru, serta adek adek siswa kelas X, XI juga ikut mendoakan kami,” katanya.
”Menjelang TKA tentunya ada perasaan deg deg an Bu. Ada rasa khawatir takut jadi satu. Karena, disini bukan hanya harapan kita saja sebagai siswa tapi ada juga harapan orang tua dan guru untuk hasil yang terbaik. Syukur Alhamdulillah guru-guru kami di MAN Kota Surabaya sangat perhatian kepada kami para siswa. Dan, madrasah sangat tanggap dengan memberikan fasilitas berupa bimbingan belajar penuh tiap hari Rabu dari pukul 07.00 wib hingga pukul 10.00 wib. Dan, di hari Sabtu mulai pukul 08.00 s-d pukul 12.00. Alhamdulillah, fasilitas bimbingan belajar itu diberikan oleh madrasah kepada kami, para siswa kelas XII, secara gratis. Kami tidak dipungut biaya. Alhamdulillah, terima kasih yang tak terhingga kami sampaikan,” jelas Revalina.
Setelah doa bersama, para siswa kelas XII berkumbul di aula untuk menerima pesan-pesan dari kepala madrasah. Dalam petrtemuan itu, para siswa dihimbau untuk memaksimalkan waktu selama tiga hari menjelang TKA yang akan berlangsung besok, Senin, ( 3 / 10/ 2025). Pimpinan madrasah juga meminta kepada para siswa untuk meminta doa kepada orangtua serta bersedekah.
Hal senada juga disampaikan oleh Ibu Ulumiah, guru BK senior MAN Kota Surabaya. Beliau menghimbau kepada para siswa untuk meminta restu kepada orang tua.
”Seperti yang disampaikan oleh Ustadz Umar Faruk tadi, doa yang paling mustajabah adalah doa dari diri sendiri. Anak anak harus meningkatkan diri untuk berdoa, patuh kepada orang tua dan guru. Restu orangtua dan guru adalah hal terpenting untuk suksesnya anak – anak,” kata Ibu Ulum saat ditermui tim jurnalistik di ruang BK.

Para siswa memohon doa restu kepada Ibu Ulumiyah, guru BK senior MAN Kota Surabaya
Selepas menerima wejangan dari madrasah, para siswa kelas XII tidak langsung kembali ke bangku masing-masing. Dipimpin oleh ketua kelas, mereka berduyun-duyun mendatangi ruang guru. Mereka membawa misi sederhana nan sakral yaitu memohon restu.

Para siswa kelas XII sedang memohon restu dan sungkem kepada guru senior mereka, Ibu Yayuk Iswatin

Para Siswa memohon restu kepada Ibu Hadiah, guru senior MAN Kota Surabaya
Satu per satu, dengan takzim mereka bersalaman. Bahkan, tak sedikit diantara mereka yang sungkem kepada guru-guru yang selama ini membimbing mereka. Permintaan maaf tulus terucap, dibalas dengan pelukan erat dan doa. Beberapa siswa tampak tak kuasa menahan air mata haru yang menetes, mencairkan sekat antara pendidik dan yang dididik. Seketika, keheningan ruang guru berganti menjadi panggung kecil penuh emosi, ramai oleh bisikan doa dan isak tangis syukur. Momen ini bukan sekadar tradisi, melainkan penanda puncak perjalanan sebelum mereka melangkah menghadapi ujian akhir. Usai menyentuh hati para guru, rombongan siswa kelas XII melanjutkan langkahnya. Mereka beranjak menyambangi kelas X dan XI secara berkelompok, merendah hati meminta maaf dan doa dari adik-adik kelas mereka, seolah memastikan bahwa tak ada beban hati yang tertinggal dalam lembaran buku sekolah mereka.

Pelukan cinta dan restu dari Ibu Agus Setyaningsih untuk siswanya

Para siswa kelas XII, merendahkan hati, meminta maaf dan doa adi adik adik kelasnya
Inilah MAN Kota Surabaya, sebuah lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama Kota Surabaya, yang secara konsisten mendidik para siswanya dengan sentuhan akhlakul karimah. Mereka tak hanya diasah dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga ditempa dalam budi pekerti luhur. Sebab, setelah segala daya upaya dan energi dikerahkan, setelah nalar disentuh hingga batas kemampuannya, pada akhirnya, para siswa ini kembali ke titik nol ego. Mereka menyerahkan segala hasil dan takdir kepada Sang Penentu. Dalam momen haru penuh restu ini, doa adalah jembatan yang menyambungkan kerja keras di meja belajar dengan ketenangan jiwa yang mutlak. Itulah gambaran sebuah pembalajaran nyata dalam proses pendidikan yang utuh dan tak kan lekang oleh dinamikan perkembangan zaman.
Wiji Laelatul Jum ah (Humas, Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
#KementrianSemuaAgama#
