Surabaya – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Surabaya menggelar sosialisasi pencegahan bahaya penyebaran HIV/AIDS bagi anak usia sekolah pada Jumat, 13 Maret 2026. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman yang benar kepada siswa mengenai HIV/AIDS, cara penularan, pencegahan, serta upaya menghilangkan stigma negatif di masyarakat terhadap penderita.

Acara diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh salah satu siswa MAN Kota Surabaya. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh Kepala Madrasah, Drs. Fathorrakhman, M.Pd.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa pihaknya sengaja menghadirkan narasumber agar seluruh siswa mendapatkan edukasi yang tepat.

“Saya berharap seluruh siswa MAN Kota Surabaya dapat mengikuti acara ini dengan baik dan tertib,” ujarnya.

Sambutan Oleh Kepala Madrasah, Drs. Fathorrakhman, M.Pd.

Ia juga meminta para guru untuk memantau jalannya acara agar materi dapat diterima dan terlaksana dengan optimal.

Narasumber dalam kegiatan ini adalah Hugeng Susanto, SKM, M.Si., yang berkompeten di bidang penyakit menular dan tidak menular. Ia memulai sesi dengan melemparkan pertanyaan seputar penyakit menular dan tidak menular kepada siswa sebelum masuk ke materi inti tentang HIV dan AIDS.

Hugeng menjelaskan bahwa HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. “Human berarti manusia, Immunodeficiency berarti turunnya kekebalan tubuh sehingga tubuh gagal melawan infeksi, dan Virus berarti hanya terdapat di dalam tubuh manusia,” paparnya.

Ia menggambarkan dampak HIV pada tubuh. “Jika tubuh sudah terinfeksi HIV, kemudian terserang penyakit lain seperti penyakit kulit, akan muncul sariawan hingga ruam-ruam di sekitar mulut karena sistem kekebalan tubuh sudah tidak mampu melawan infeksi.”

Karakteristik HIV selanjutnya adalah menyerang sel darah putih sehingga kekebalan tubuh menurun drastis. Virus ini juga memiliki kemampuan memperbanyak diri di dalam tubuh inangnya.

Pemaparan Materi HIV/AIDS Oleh Hugeng Susanto, SKM, M.Si.

Hugeng juga menjelaskan bahwa HIV menular melalui cairan tubuh tertentu. “HIV menular melalui darah. Pada laki-laki, virus terdapat dalam cairan sperma, sedangkan pada perempuan menular melalui cairan vagina dan air susu ibu.”

Faktor risiko penularan HIV meliputi:

Hubungan seks tidak aman (heteroseksual & Homoseksual), Transfusi darah yang tidak diskrining, dan jarum suntik yang terkontaminasi. Tak hanya itu, Ibu hamil dengan HIV dapat mencegah penularan kepada bayinya dengan mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) .

Ia juga menyoroti stigma negatif di masyarakat. “Penyakit ini kerap mendapat stigma negatif karena dikaitkan dengan perilaku yang dianggap menyimpang, seperti hubungan sesama jenis atau pekerja seks. Akibatnya, ODHA sering menghadapi diskriminasi.”

Meski demikian, ia menegaskan bahwa ODHA dapat hidup panjang dan berkualitas jika rutin mengonsumsi obat. “Mereka memiliki harapan hidup yang baik, asalkan disiplin minum obat dan menjaga pola hidup sehat,” jelas Hugeng.

Hugeng juga menyampaikan materi tentang Hepatitis, penyakit yang menular melalui hati yang terkontaminasi makanan/minuman, cairan tubuh, atau kontak darah. Ia mengajak siswa memahami sistem kekebalan tubuh.

“Tubuh kita memiliki sel darah putih yang melindungi dari serangan berbagai penyakit seperti diare atau batuk. Namun virus HIV justru menyerang dan menghancurkan sel darah putih, sehingga tubuh kehilangan kemampuan melawan penyakit.”

Siswa-siswi Menjawab Pertanyaan Yang Diajukan Seputar HIV/AIDS

Upaya pencegahan HIV meliputi berperilaku aman, tidak berbagi alat suntik, skrining darah donor, program pencegahan penularan dari ibu ke anak, dan kewaspadaan standar bagi tenaga kesehatan. Penting diketahui, HIV tidak menular melalui makan bersama, berjabat tangan, maupun berpelukan.

“Jika seseorang dengan luka terbuka terpapar darah penderita HIV, ia berisiko tertular. Namun risiko ini dapat dicegah dengan pengobatan dalam 72 jam,” jelasnya.

Terkait kesembuhan, Hugeng menjawab terus terang, “Hingga saat ini HIV/AIDS belum dapat disembuhkan total. Namun ARV mampu menekan jumlah virus dalam darah sehingga kualitas hidup ODHA tetap baik.”

Hugeng memaparkan data estimasi ODHA di Indonesia. Sebanyak 11 provinsi menyumbang 76 persen dari total estimasi nasional dengan jumlah kasus di atas 10.000 orang per provinsi. Dua di antaranya adalah DKI Jakarta dan Jawa Timur dengan angka 68.816 kasus atau 96,3 persen.

“Data ini menunjukkan pentingnya kesadaran dan pencegahan sejak dini, terutama bagi kalian yang berada di usia sekolah,” pesannya.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Ali Mudzakir, S.Pd.I. Sosialisasi ini membuktikan komitmen MAN Kota Surabaya dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif kepada siswa. Edukasi langsung dari ahli menjadi penting untuk meluruskan pemahaman di tengah maraknya informasi yang simpang siur.

Pembacaan Doa Oleh Bapak Ali Mudzakir, S.Pd.I.

Yang tak kalah penting, pemateri tidak hanya menyampaikan aspek medis, tetapi juga dimensi sosial berupa stigma yang kerap dialami ODHA. Dengan pemahaman yang benar, siswa diharapkan mampu melindungi diri sekaligus bersikap empatik tanpa diskriminasi.

Reportase: Farida, Fayruz Chalissa (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Dokumentasi: Safina Aurelia, Farida (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Kepenulisan: Ayu Citra (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Editor: Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya

Pembina: Wiji Laelatul Jum’ah (Humas, Pembina Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *