SURABAYA—Pandangan bahwa kemampuan membaca kitab kuning hanya dapat diperoleh melalui proses panjang di pondok pesantren kini mulai mengalami perubahan. MAN Kota Surabaya menghadirkan inovasi melalui Uji Publik Program Cepat Baca Kitab Kuning Metode Muyassaroh yang diselenggarakan pada Kamis, 23 April 2026 di aula besar MAN Kota Surabaya. Acara ini dihadiri oleh 25 siswa MAN Kota Surabaya sebagai peserta, orang tua siswa, para pejabat Kementerian Agama, dan kepala MTsN Se-Surabaya.
Program ini menjadi bukti bahwa dengan metode yang tepat serta kedisiplinan yang tinggi, siswa mampu menguasai dasar membaca kitab gundul dalam waktu relatif singkat, yakni 16 hari intensif. Selama program berlangsung, para siswa dibimbing secara sistematis hingga mampu memahami struktur dasar bahasa Arab yang menjadi kunci dalam membaca kitab kuning.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Dr. Muhammad Muslim, S.Ag., M.Sy., menyampaikan apresiasi atas capaian para siswa.

“Tantangan terbesar dalam proses belajar bukanlah pada tingkat kesulitan materi, melainkan pada kemampuan seseorang dalam mengendalikan rasa malas dan lelah,” ujar Bapak Muslim.
Menurut beliau, kemauan yang kuat menjadi faktor utama dalam meraih keberhasilan, termasuk dalam mempelajari kitab kuning yang selama ini dianggap sulit.
Metode Muyassaroh yang diterapkan dalam program ini memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan metode pembelajaran konvensional. Jika pada umumnya pembelajaran lebih menekankan pada hafalan, metode ini justru berfokus pada pembiasaan melalui praktik langsung. Siswa dilatih untuk memahami teori secara aplikatif sehingga proses belajar menjadi lebih efektif dan mudah dipahami.
Pimpinan LPBA Muyassaroh Surabaya, Muhammad Mudhollafi, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk membantu generasi muda dalam mengakses literatur klasik Islam secara lebih cepat dan efisien. Para siswa terlebih dahulu mempelajari materi melalui empat tingkatan buku, sebelum akhirnya mempraktikkan kemampuan mereka pada kitab Ta’lim Muta’allim. Untuk memperkuat pemahaman, siswa juga dibiasakan menulis ulang materi beberapa kali sebagai bentuk penguatan ingatan, baik secara motorik maupun kognitif.

Program ini diinisiasi oleh Kepala MAN Kota Surabaya, Drs. H. Fathorrakhman, M.Pd., sebagai upaya untuk memberikan kesempatan kepada siswa yang tidak memiliki latar belakang pesantren agar tetap mampu mengembangkan potensi di bidang literasi keagamaan. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan daya saing siswa, khususnya dalam penguasaan bahasa Arab, agar mampu sejajar dengan lulusan pesantren melalui metode pembelajaran yang lebih praktis.
Dalam pelaksanaannya, program ini menerapkan sistem evaluasi yang ketat. Seluruh peserta diwajibkan mengikuti kegiatan secara penuh selama 16 hari tanpa absen. Evaluasi dilakukan secara berkala melalui tes mendadak yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pejabat Kementerian Agama Kota Surabaya hingga Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur.
Puncak kegiatan ini adalah pelaksanaan uji publik, di mana para siswa diuji secara langsung di hadapan orang tua, guru agama, pejabat Kementerian Agama, serta kepala MTsN se-Surabaya. Kegiatan ini menjadi ajang pembuktian kemampuan siswa sekaligus bentuk transparansi terhadap kualitas program yang telah dilaksanakan.

Melalui program ini, diharapkan para siswa tidak hanya mampu membaca kitab kuning secara mandiri, tetapi juga dapat membagikan ilmu yang telah diperoleh serta menjadi inspirasi bagi teman sebaya di lingkungan MAN Kota Surabaya.
Kepenulisan: Fayruz Chalissa (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
Reportase: Athari, Ayu Putri (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
Dokumentasi: Fina, Laras (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
Editor: Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya
