(Surabaya – MAN Kota Surabaya) Sebuah perjalanan pendidikan tidak selalu berakhir ketika rombongan kembali ke daerah asal. Kadang, perjalanan justru baru dimulai setelah seseorang melihat, bertanya, dan menemukan cara baru untuk melakukan sesuatu. Itulah yang terasa dalam kunjungan 15 Aparatur Sipil Negara (ASN) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah ke MAN Kota Surabaya, pada Jumat (28/8/2026).

Rombongan yang dipimpin Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah H. Muhammad Yusi Abdhian itu datang dalam agenda studi tiru. Rombongan yang hadir terdiri atas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah H. Muhammad Yusi Abdhian, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah H. Taufikurrahman, Katim Tendik M. Aini, Katim Kurikulum dan Kesiswaan H. Ahmad Maki, Katim Kelembagaan Mawardi Khalid, Perencana Huges, serta Pelaksana Fathorrahman. Selain para pejabat di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kalimantan Tengah, rombongan tersebut juga dihadiri oleh Kepala MAN Kota Palangkaraya Murjani, Kepala MAN 1 Pulang Pisau Muliani, Kepala MAN Kotawaringin Suratno, dan Kepala MAN Barito Utara Setia Rahman.

Pertemuan tersebut tidak semata-mata menjadi ruang untuk melihat fasilitas dan tata kelola madrasah. Lebih dari itu, kunjungan tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman. Kunjungan itu juga mempererat hubungan antarlembaga pendidikan.

Kepala MAN Kota Surabaya Drs. Fathorrakhman, M.Pd, menyambut rombongan di ruang kepala madrasah. Suasana pertemuan berlangsung cair. Percakapan mengalir. Sesekali diselingi gelak tawa.

Tidak ada jarak yang terlalu lebar di antara mereka. Padahal, rombongan datang dari wilayah yang berjarak ribuan kilometer dari Surabaya. Jarak geografis ternyata tidak selalu berarti jarak dalam membangun persahabatan.

Rombongan terlebih dahulu mengamati sejumlah fasilitas MAN Kota Surabaya. Salah satunya ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Tata ruang yang rapi menjadi perhatian. Beberapa anggota rombongan mengabadikan kondisi ruangan dengan kamera. Setelah itu, mereka berdiskusi dengan kepala madrasah.

Berbagai perkembangan MAN Kota Surabaya menjadi bahan pembicaraan. Mulai dari tata kelola hingga pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Salah satu yang menarik perhatian adalah penggunaan interactive touch board atau IT board.

Di MAN Kota Surabaya, perangkat tersebut digunakan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Waka Kurikulum MAN Kota Surabaya Enny Subhandini menjelaskan bahwa IT board membuat materi pelajaran dapat disampaikan dengan lebih visual dan interaktif.

Guru dapat menghadirkan video pembelajaran. Materi tertentu bahkan dapat ditampilkan dalam bentuk tiga dimensi.

Dalam pembelajaran kimia, misalnya, materi konfigurasi elektron dapat dijelaskan melalui tampilan audio visual 3D. Hal serupa dapat digunakan dalam pembelajaran biologi, matematika, dan mata pelajaran lainnya.

“Banyak hal positif setelah IT board digunakan sebagai media pembelajaran. Informasi materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa lebih jelas,” ujar Enny.

Menurut dia, siswa juga lebih menikmati proses pembelajaran. Teknologi, dalam hal ini, bukan tujuan akhir. Ia menjadi alat untuk membuat pembelajaran lebih dekat dengan dunia siswa.

Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat, kemampuan madrasah beradaptasi menjadi semakin penting.

Setelah berdiskusi, rombongan mengunjungi kelas XII L dan XII M. Kedua kelas tersebut merupakan kelas akselerasi yang dirancang untuk menyelesaikan pendidikan dalam waktu dua tahun. Rombongan kemudian meninjau masjid, lapangan olahraga, dan sejumlah fasilitas lainnya.

(Melihat dari dekat penggunaan IT board di ruang kelas akselerasi)

Fathorrakhman mendampingi kunjungan tersebut. Ia menjelaskan proses pembangunan serta fungsi setiap fasilitas.

Bagi rombongan Kemenag Kalimantan Tengah, kunjungan semacam itu memberikan gambaran yang lebih utuh. Sebab, pengelolaan madrasah tidak hanya berbicara tentang ruang kelas. Ada tata kelola. Ada guru. Ada siswa. Ada teknologi. Ada sarana. Dan ada budaya belajar yang harus terus dirawat. Semua unsur tersebut saling berkaitan.

Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah H. Muhammad Yusi Abdhian mengaku mendapatkan banyak hal dari kunjungan tersebut. Ia menilai MAN Kota Surabaya memiliki tata kelola manajemen yang baik. Fasilitasnya juga tertata.

“Banyak hal yang sudah saya dapatkan dari MAN Kota Surabaya. MAN Kota Surabaya merupakan madrasah yang sangat bagus,” ujarnya. Yusi mengatakan, rombongan juga melihat langsung pemanfaatan IT board serta berbagai fasilitas lainnya.

“Apa yang sudah kami dapatkan dari MAN Kota Surabaya ini akan kami bawa ke daerah kami,” katanya.

Pernyataan itu menjadi bagian penting dari makna studi tiru. Sebab, studi tiru bukanlah kegiatan untuk menyalin sesuatu secara utuh. Yang dibawa pulang bukan sekadar bentuk ruang, perangkat teknologi, atau sistem kerja. Yang lebih penting adalah gagasan di baliknya.

(Saling memberi cendera mata)

Apa yang berhasil di satu madrasah dapat menjadi inspirasi bagi madrasah lain. Setelah itu, gagasan tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan, karakter, dan kemampuan daerah masing-masing. Dengan cara seperti itu, inovasi tidak berhenti di satu tempat.

Penulis: Wiji Laelatul Jum ah (Humas, Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

#KementrianSemuaAgama#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *