#kankemenagkotasurabaya#

#mankotasurabaya#

#hadirsebagaiinspirasi#

(Surabaya – MAN Kota Surabaya) Langit Surabaya seolah menahan napas. Awan kelabu yang beberapa hari terakhir setia mengguyur Kota Surabaya dengan hujan yang begitu derasnya, kemarin sore pada Jum at 28 November 2025 perlahan menyisih. Di ufuk barat, semburat jingga senja memeluk kubah biru, ikonik Masjid Nasional Al-Akbar,  seakan memberi restu bagi ribuan jiwa yang mulai memadati halaman timur, salah satu masjid termegah di Asia Tenggara itu.

Malam itu bukan malam biasa. Halaman masjid yang berdiri di atas lahan seluas 11,2 hektar tersebut bertransformasi menjadi lautan manusia. Namun, di tengah riuh rendah “Syekhermania”  sebutan bagi pencinta sholawat—ada pemandangan yang tak lazim namun menyejukkan hati. Deretan area jamaah VIP yang biasanya diduduki para undangan khusus, malam itu justru menjadi singgasana bagi tamu istimewa: Generasi Z.

Para siswa yang sudah bersiap mengikuti acara sholawat kebangsaan sejak sore hari

Sebanyak 160 siswa MAN Kota Surabaya hadir sebagai undangan kehormatan dalam gelar “Sholawat Kebangsaan.” Mengenakan busana serba putih, mereka duduk rapi.  Terlihat kontras namun harmonis dengan ribuan jemaah lain yang memutihkan kawasan masjid AL Akbar di Pagesangan.

Tamu Istimewa di karpet merah kehidupan itu sudah hadir  sejak pukul 16.30 WIB.  Wajah-wajah belia dari para siswa MAN Kota Surabaya, bersama rekan-rekan mereka dari MAN Sidoarjo dan santri PPK Alif Lam Miim, telah memadati area yang disterilkan khusus oleh tim keamanan. Tidak ada kegaduhan, hanya kekhidmatan. Kehadiran mereka di barisan terdepan bukan sekadar simbolis, melainkan sebuah pesan yang kuat bahwa tongkat estafet spiritualitas bangsa kini sedang diulurkan kepada kaum muda.

Kahadiran Habib Syeikh

“Ini adalah ruang di mana gadget diletakkan, dan hati dihidupkan,” ujar salah satu guru pendamping. Di era di mana jari-jari remaja lebih akrab dengan layar sentuh, kehadiran mereka di majelis ini adalah anomali yang indah. Mereka diajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya ditemukan dalam validasi media sosial, tetapi dalam ketenangan batin melalui dzikir dan pikir.

Jarum jam bergerak ke arah malam, suasana kian magis. Gema rebana dari grup Al-Banjari Pasuruan menyayat kesunyian. Ini menjadi ouvertura bagi puncak acara. Riuh rendah berubah menjadi gemuruh takbir dan sholawat ketika sosok yang dinanti tiba: Al-Habib Syaikh bin Abdul Qodir Assegaf.

Dengan postur tinggi tegap dan wajah teduh khas keturunan Arab, Habib Syaikh berjalan membelah kerumunan. Karismanya bukan lahir dari jabatan, melainkan dari ketulusan dakwah yang konsisten. Beliau adalah maestro yang mampu meramu syair cinta kepada Nabi menjadi nada-nada yang bisa diterima telinga anak muda hingga orang tua. Spanduk-spanduk raksasa bergambar wajah beliau dikibarkan oleh para “Syekhermania”, meliuk-liuk di udara seirama dengan detak jantung ribuan jemaah.

Al-Habib Syaikh bin Abdul Qodir Assegaf bersama para pejabat Kementrian Agama

Turut hadir mendampingi di panggung utama, jajaran pejabat Kementerian Agama RI, di antaranya Direktur Bimas Islam, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar sebagai pejabat representatif, beserta jajarannya. Kehadiran para umara (pemimpin) yang duduk bersanding dengan ulama ini menyiratkan harmoni antara kebijakan negara dan kekuatan spiritual.

“Sholawat Kebangsaan” malam itu tidak hanya berhenti pada puji-pujian, tetapi menukik tajam pada esensi kemanusiaan: Sedekah untuk Kemaslahatan Umat.

Dalam atmosfer yang syahdu, pesan tentang sedekah disampaikan bukan sebagai beban, melainkan sebagai kebutuhan jiwa. Bagi para siswa MAN Kota Surabaya, ini adalah pembelajaran karakter tingkat tinggi (High Order Thinking Skills)  khususnya dalam kehidupan manusia. Sang Habib mengajak mereka merenungi hadis sahih riwayat Muslim“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”

Secara matematika manusia, memberi berarti mengurangi. Namun, dalam matematika langit, memberi adalah melipatgandakan. Filosofi ini ditanamkan oleh sang Habib kepada Gen Z agar mereka tumbuh tidak menjadi generasi yang transaksional, melainkan generasi yang transformasional—yang peka bahwa di dalam harta mereka, ada hak orang lain yang harus ditunaikan.

Seperti air yang memadamkan api, demikianlah sedekah menghapuskan dosa. Di tengah gema sholawat “Ya Hanana” yang ikonik, terselip doa agar Indonesia dijauhkan dari bencana melalui kekuatan derma warganya. Mentri Agama RI, Prof DR Nazarudin Umar menyampaikan sambutan secara online. Dalam sambutan tersebut, beliau menyampaikan pesan tentang kemanusiaan dan kerukunan umat.

Malam yang Mengubah Hati Semakin malam, acara tidak menyurut, justru semakin “jadi”. Langit malam Surabaya yang cerah menjadi saksi ketika ribuan suara, dari pejabat hingga pelajar, menyatu dalam satu frekuensi cinta kepada Sang Rasul. Area seluas 22.500 meter persegi bangunan masjid seolah bergetar, bukan karena gempa, tapi karena resonansi spiritual.

Para guru yang mendampingi siswa

Bagi siswa MAN Kota Surabaya, malam itu adalah laboratorium pendidikan karakter yang nyata. Mereka belajar tentang adab kesopanan di area VIP, toleransi dengan berbagi ruang dengan ribuan orang, spiritualitas mencintai Nabi, dan filantropi semangat berbagi.

“Menurut saya, acaranya seru sekali Bu. Karena, ini pengalaman yang baru bagi saya. Apalagi, saya menghadirinya bersama temen-temen sekelas makin seru, dan dinotice habibnya, senang,” kata Rajni, siswa kelas XI

Senada dengan Rajni, Rifatus Sholihah juga memberikan pernyataan yang sama. “Menurut saya, acara Sholawat Kebangsaan bersama Habib Syech tadi benar-benar menghadirkan suasana yang damai. Lantunan sholawat membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan meneguhkan semangat kebangsaan. Saya juga kagum dan gak nyangka ternyata bisa lihat Habib Syekh secara langsung, karena sebelumnya saya hanya lihat beliau dari handphone,” katanya

“Kalau menurut saya, acara Sholawat Kebangsaan kemarin malam berlangsung dengan sangat khidmat. Suasananya membawa ketenangan, terutama ketika seluruh jamaah bersholawat bersama. Ditambah lagi saya menontonnya bersama teman-teman kelas. Jadi, suasananya terasa menjadi lebih seru dan menyenangkan,” sambung Nisa i.

“Menurut saya pribadi, acara bersholawat dengan The Wonder of Harmony ini sangat berkesan. Saya tidak hanya menikmati kebersamaan sholawat bersama teman maupun keluarga. Akan tetapi, saya merasa mendapat manfaat dunia dan akhirat dari ceramah yang telah di sampaikan oleh Habib Syaikh Assegaf ini. Dengan menghadiri acara ini, saya tidak hanya mendapat momen kebersamaan. Namun, hikmah serta pahala yang juga menjadi benefit,” jelas Angeli

“Bintang lima Bu. Untuk saya pribadi yang sudah lama tidak majlisan, rasanya seru banget. Apalagi, hadir bersholawat bersama teman-teman sekelas, feel-nya beda,” kata Fiya.

“Bagi saya pribadi, untuk acara itu seru dan jadi momen yang berkesan sekali Bu. Terutama kami diberi kesempatan untuk dapat space di tengah paling depan, pas posisi di depan Habib Syekh Assegaf. Jadi, suasananya lebih tenang. Dan, alunan sholawat yang dilantunkan juga terasa jadi lebih indah Bu. Saya juga suka lampu kelap-kelipnya,” sambung Dinara dan Novia. Begitulah suara polos mereka, generasi Z, dalam menyampaikan aspirasinya. Pendapat yang lahir dari pribadi yang masih jernih, sejernih ajaran sang habib, maestro sholawat yang berwajah teduh terpancar dari ketulusan syiar dakwah yang disampaikannya.

Siswa siswi MAN Kota Surabaya berada di barisan terdepan

Acara ditutup dengan lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan doa yang melangit, menyisakan butiran air mata haru di pipi para peserta. Ketika Gen Z ini pulang, mereka tidak hanya membawa kenangan visual tentang kemegahan panggung atau suara merdu sang Habib Syech. Akan  tetapi, mereka membawa pulang sebuah “oleh-oleh” abadi bahwa  kesadaran hidup adalah tentang seberapa banyak kita memberi manfaat. Bukan seberapa banyak kita mendapat.Di bawah naungan kubah Al-Akbar inilah sebuah generasi baru yang shaleh ritual dan shaleh sosial tengah lahir. Dalam sholawat cinta, Sang Habib telah mengajarkan makna kehidupan kepada para siswa.

Wiji Laelatul Jum ah (Humas, Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

#KementrianSemuaAgama#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *