#kankemenagkotasurabaya#
#mankotasurabaya#
#hadirsebagaiinspirasi#
( Surabaya -MAN Kota Surabaya) – Toleransi bukan sekadar deretan kata di atas kertas, melainkan nilai hidup yang harus dirawat di tengah keberagaman pandangan dan cara berpikir. Menyadari krusialnya harmoni di tangan generasi muda, Ekstrakurikuler Sahabat Moderasi Beragama (HASIRAMA) MAN Kota Surabaya menggelar Festival Toleransi 2K25, sebuah ruang dialog untuk memperkokoh persatuan bangsa.
Perhelatan yang digelar pada hari ini Jumat 19 Desember 2025 di Aula Besar MAN Kota Surabaya mengusung tema sentral “Peran Generasi Muda dalam Menjaga Ukhuwah dan Toleransi di Era Digital.” Agenda ini menjadi oase bagi siswa-siswi, guru, hingga peserta eksternal yang memadati lokasi acara.

Secara filosofis, moderasi beragama bagi Gen Z berfungsi sebagai “jalan tengah” atau wasathiyah di tengah gempuran ideologi ekstrem di era global. Moderasi bukanlah tentang mendangkalkan keyakinan, melainkan cara pandang yang menempatkan kemanusiaan sebagai titik temu. Di tengah dunia yang tanpa batas, kemampuan anak muda untuk tetap berpijak pada nilai religius sekaligus menghargai perbedaan adalah kunci menjaga kedaulatan bangsa.
Ketua Pelaksana, Muhammad Revano, dalam laporannya menyebutkan bahwa acara ini merupakan upaya konkret pemuda untuk mengambil peran dalam perdamaian. Hal senada disampaikan Kepala MAN Kota Surabaya, Bapak Drs. Fathorrahman M.Pd.
“Kegiatan ini memiliki manfaat yang sangat positif, maka saya berharap untuk tahun berikutnya akan ada acara seperti ini lagi,” ujar Bapak Fathorrahman saat memberikan sambutan.

Suasana aula yang awalnya syahdu oleh alunan melodi Manesa Band berubah menjadi dinamis saat sesi puncak dimulai. Talkshow ini menghadirkan narasumber Husain Basyaiban atau Kadam Sidik, pendakwah muda yang populer di ruang digital, bersama Bapak Muslim selaku Kepala Kantor Kementerian Agama. Ada juga sebagian siswa yang menyaksikan kegiatan ini di area Masjid Kanzul Hikmah MAN Kota Surabaya.
Dipandu oleh Rangga sebagai moderator, kedua narasumber membedah urgensi ukhuwah (persaudaraan) di dunia maya. Kadam Sidik menekankan bahwa tantangan terbesar Gen Z saat ini adalah godaan untuk menjadi hakim di media sosial. Ia berpesan agar generasi muda memiliki “saring sebelum sharing” sebagai bentuk moderasi dalam berkomunikasi.

Antusiasme peserta tak terbendung saat sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan kritis dilontarkan kepada Kadam Sidik dan Bapak Muslim, mencerminkan dahaga intelektual para remaja akan isu perdamaian.
Kesan mendalam dirasakan oleh Fathir, siswa MAN Kota Surabaya. “Dari acara ini, saya jadi memahami toleransi di era digital dari sudut pandang Kadam Sidik. Banyak pengetahuan dan wawasan baru yang disampaikan,” ungkapnya.
Sementara itu, Satria, siswa lainnya, mengaku sangat menikmati jalannya acara. Sebagai penggemar Kadam Sidik, ia berharap kegiatan serupa terus berlanjut. “Kesannya seru sekali. Saya berharap tahun depan ada lagi acara seperti ini, apalagi saya sangat mengidolakan beliau,” tuturnya.
Tak hanya dari internal sekolah, apresiasi datang dari peserta eksternal yang hadir setelah melihat pengumuman di media sosial. “Saya tertarik sejak melihat informasi acara ini di Instagram. Saya kagum panitia mampu menghadirkan tokoh inspiratif. Semoga ini bisa membuka pola pikir generasi muda agar lebih bijak menyikapi perbedaan di era digital,” ujarnya.
Melalui festival ini, kehadiran Kadam Sidik diharapkan mampu memperluas dampak pesan toleransi agar tidak hanya berhenti di lingkungan madrasah, tetapi menyebar ke ruang publik yang lebih luas. Menjaga kerukunan adalah tugas kolektif; sebuah investasi panjang untuk menjaga keutuhan Indonesia di masa depan.
Penulis : Shaffa Zulfa
Dokumentasi : Zalfa, Nisai, Azka, Safina Aurelia
Reportase : Farida, Dinda
Editor : Wiji Laelatul Jum ah (Humas, Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
#KementrianSemuaAgama#
