(Surabaya– MAN Kota Surabaya) Kamis, 22 Januari 2026, di koridor MAN Kota Surabaya, ada riuh rendah suara siswa. Suara itu tak sekadar menandakan jam istirahat. Di balik pintu-pintu ruang kelas, sebuah laku kemanusiaan sedang dipintal. Melalui tajuk MANDORA (MAN Donor Darah), para remaja ini tidak sedang sekadar mengejar nilai akademik, melainkan sedang belajar mengeja arti “pengorbanan” yang paling nyata: memberikan bagian dari diri sendiri untuk orang lain yang tak mereka kenal.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) ini berhasil menjaring 152 pendonor. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari 152 denyut nadi yang bersedia berbagi kehidupan. Membasuh krisis dengan kepedulian, langkah ini bukan tanpa alasan.
Ketua Pelaksana MANDORA, Baraq Yasid, mengungkapkan bahwa kegiatan ini lahir dari sebuah kegelisahan terhadap menipisnya stok darah, khususnya golongan darah O, di Palang Merah Indonesia (PMI).

“Kami mendengar ada krisis stok darah. Maka, kami bergerak. Seluruh persiapan, dari koordinasi hingga teknis di lapangan, dilakukan secara mandiri oleh anggota PMR. Ini adalah cara kami merespons kebutuhan sesama,” ujar Baraq.
Bagi madrasah, kegiatan ini adalah perwujudan dari konsep Rahmatan lil Alamin—menjadi rahmat bagi semesta alam. Mendonorkan darah secara filosofis bukan sekadar tindakan medis, melainkan sebuah ritual “sedekah biologis”. Saat setetes darah berpindah raga, di situlah terjadi transformasi karakter dari egoisme menuju altruisme.
Melawan Takut, Merajut Karakter. Prosesi donor darah berlangsung dengan ketat. Mulai dari registrasi, pemeriksaan kesehatan (screening), hingga pengecekan kadar hemoglobin (Hb). Tak semua niat baik bisa langsung terlaksana, beberapa siswa harus menelan kekecewaan karena kadar Hb yang belum memenuhi standar. Namun, bagi yang lolos, ada rasa haru yang menyeruak.

Maida Saniyah, salah satu siswi yang baru pertama kali merelakan lengannya ditusuk jarum, mengaku sempat didera kecemasan. “Awalnya penasaran sekaligus takut. Tapi keinginan untuk membantu jauh lebih besar dari rasa takut itu,” ucapnya lirih.
Ketangguhan Maida dan kawan-kawannya inilah yang menjadi perhatian Bapak Rizal Setiyono, S.Sos, Pembina PMR MAN Kota Surabaya. Menurutnya, tema “Setetes Darah, Sejuta Harapan” mengandung makna filosofis tentang kesinambungan hidup.
“Darah adalah simbol kehidupan. Dengan mendonorkannya, siswa belajar bahwa keberadaan mereka di dunia harus memiliki nilai manfaat bagi orang lain. Inilah pendidikan karakter yang sesungguhnya,” jelas Bapak Rizal.

Menanam Benih Rahmatan lil Alamin. Di akhir kegiatan, para pendonor tampak menikmati konsumsi pemulihan, namun yang lebih utama adalah wajah-wajah yang tampak “lebih penuh” secara batiniah. Baraq Yasid pun menitipkan pesan penutup yang kuat bagi rekan sebaya dan masyarakat luas. “Jangan takut. Dengan mendonor, kita bukan sedang kehilangan, tapi sedang menanam harapan untuk nyawa orang lain.”
Kegiatan MANDORA di MAN Kota Surabaya menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa di tengah dunia yang semakin individualistis, sekolah tetap menjadi persemaian utama untuk menumbuhkan generasi yang memiliki kecerdasan sosial. Generasi yang sadar bahwa cara terbaik untuk mencintai Sang Pencipta adalah dengan mengasihi sesama ciptaan-Nya.
Penulis: Shaffa Zulfa (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
Dokumentasi: Syifa Nabila, Azka (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
Reportase: Ajilah, Ayu Putri (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
Editor: Wiji Laelatul Jum’ah (Humas, Pembina Ekstrakulikuler Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
