(SURABAYA – MAN Kota Surabaya) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Surabaya memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H sebagai momentum krusial untuk memperkuat fondasi spiritualitas siswa di tengah tantangan zaman. Peristiwa perjalanan agung Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha tersebut dimaknai bukan hanya sekadar seremoni tahunan, melainkan refleksi atas perintah sholat lima waktu sebagai pilar utama pembentukan karakter.

Pada Rabu, 21 Januari 2026, suasana khidmat menyelimuti lingkungan madrasah. Seluruh siswa dari jenjang kelas X hingga XII larut dalam rangkaian acara yang dirancang untuk menyinergikan aspek kompetensi dan religiositas. Sejak pukul 08.00 WIB, Masjid Kanzul Hikmah telah riuh dengan kompetisi murotal Al-Qur’an. Lomba ini menjadi instrumen madrasah untuk menanamkan kecintaan pada literasi suci sekaligus memupuk iklim kompetisi yang sehat.

Saat pukul 13.00 WIB, selepas sholat dhuhur berjamaah, dinamika acara beralih ke panggung utama. Lantunan sholawat dari tim Al Banjari memberikan nuansa syahdu, disusul penampilan Tari Saman yang dibawakan dengan presisi tinggi oleh ekstrakulikuler Tarsamansa. Perpaduan seni ini menjadi simbol harmonisasi disiplin dan kerja sama tim dalam pendidikan madrasah.

Penampilan Tari Saman oleh Ekstrakulikuler Tarsamansa

Kepala MAN Kota Surabaya, Bapak Fathorrakhman, dalam sambutannya menekankan bahwa esensi Isra Mi’raj adalah transformasi diri.

“Kami berharap peringatan ini menjadi momentum bagi para siswa untuk semakin meningkatkan kualitas ibadah, khususnya dalam menjaga sholat lima waktu. Ibadah yang konsisten akan membentuk karakter siswa yang beriman, berakhlak mulia, sekaligus berprestasi,” ujar Fathorrakhman di hadapan ratusan siswa.

Puncak pemaknaan spiritual disampaikan oleh Bapak KH. Achmad Ainul Yaqin dalam sesi mauidatul hasanah. Ia membedah teologi perjalanan malam Nabi Muhammad SAW yang melampaui logika manusia.

“Isra Mi’raj adalah bukti kebesaran Allah. Rasulullah menjadi imam bagi para nabi terdahulu di Masjidil Aqsa sebagai tanda bahwa beliau adalah penutup para nabi sebelum naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah sholat,” terang Kyai Ainul.

Ia juga menjelaskan transisi perintah sholat dari lima puluh menjadi lima waktu sebagai manifestasi kasih sayang Allah. “Pada awalnya salat diwajibkan lima puluh waktu. Namun atas kasih sayang Allah dan permohonan Rasulullah demi umatnya, kewajiban itu diringankan menjadi lima waktu dengan pahala yang tetap setara. Dari sini kita harus memahami betapa pentingnya menjaga sholat dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Sesi Tanya Jawab Kyai Ainul dengan Siswa

Mengacu pada Surah Al-Isra ayat 1, KH Achmad Ainul Yaqin mengingatkan bahwa segala sesuatu berada dalam pengawasan-Nya.

“Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak luput dari pantauan Sang Pencipta, maka integritas diri harus dijaga,” pesannya menutup ceramah.

Ketua panitia penyelenggara menjelaskan bahwa target utama kegiatan ini adalah penguatan mental siswa agar tidak tergerus arus zaman. “Latar belakang melaksanakan Isra Mi’raj ini supaya anak-anak tahu tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW sampai ke langit ketujuh. Tujuannya agar ke depan anak-anak tidak malas melaksanakan sholat selama hidup di dunia,” tegasnya.

Keberhasilan acara ini juga ditunjang oleh manajemen lapangan yang solid dari unsur siswa. “Kondisi acara tahun 2026 ini berjalan dengan aman dan tertib karena diatur secara kolaboratif oleh panitia OSIS dan Takmir. Acara ini harus diadakan karena menjadi momen penting untuk menerima perintah melaksanakan sholat langsung dari Allah SWT,” tutur salah satu anggota Takmirah yang bertugas.

Rangkaian peringatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Achmad Ainul Yaqin. Suasana reflektif ini menandai berakhirnya acara yang tidak hanya berjalan lancar secara seremonial, tetapi juga memberikan kesan spiritual mendalam bagi seluruh warga MAN Kota Surabaya.

Kyai Ainul bersama dengan Guru MAN Kota Surabaya

Peringatan Isra Mi’raj bukan sekadar mengenang perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW melainkan sebuah peristiwa yang memiliki kedalaman filosofis bagi pembangunan karakter siswa. Dalam konteks pendidikan, peristiwa ini merupakan simbol transformasi diri dan penguatan integritas.

Pertama, transformasi dari horizontal ke vertikal (Integritas Ibadah). Secara filosofis, Isra (perjalanan horizontal dari Makkah ke Palestina) melambangkan hubungan sesama manusia (Hablun minannas), sementara Mi’raj (perjalanan vertikal ke Sidratul Muntaha) melambangkan hubungan dengan Tuhan (Hablun minallah).

Ada penerapan karakter bahwa siswa diajarkan kesuksesan sosial (prestasi, pertemanan, popularitas) harus seimbang dengan kekuatan spiritual. Tanpa pondasi spiritual yang kuat (salat), keberhasilan duniawi akan kehilangan maknanya.

Kedua, kedisiplinan melalui frekuensi salat. Perintah sholat lima waktu yang diterima Nabi dalam peristiwa Mi’raj adalah instrumen pendidikan karakter paling disiplin. Sholat merupakan pembelajaran penempatan karakter. Sholat melatih siswa untuk memahami manajemen waktu (time management). Siswa yang menjaga salatnya secara tepat waktu secara filosofis sedang melatih diri untuk patuh pada aturan, menghargai waktu, dan memiliki ritme hidup yang teratur.

Ketiga, ketangguhan di tengah ujian (Resiliensi). Perlu diingat bahwa Isra Mi’raj terjadi di tahun kesedihan (Amul Huzni), saat Nabi kehilangan pendukung utamanya. Allah “menghibur” Nabi dengan perjalanan agung ini.

Penerapan Karakter ini mengajarkan siswa untuk memiliki daya resiliensi. Saat menghadapi kegagalan akademik atau masalah pribadi, siswa diajak untuk tidak berputus asa, melainkan justru “mendekat ke atas” (berdoa dan berusaha) untuk mendapatkan kekuatan baru.

Keempat, simbol integritas jujur di tengah ketidakpercayaan. Saat Nabi menceritakan pengalaman Isra Mi’raj, banyak yang tidak percaya. Namun, Nabi tetap teguh pada kebenaran yang dialaminya.

Penerapan karakter Ini memberi penguatan karakter kejujuran dan keteguhan prinsip. Siswa didorong untuk menjadi pribadi yang berintegritas—berani menyatakan kebenaran meskipun hal itu tidak populer atau sulit diterima oleh lingkungan sebayanya.

Kelima, ada kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan. Meskipun Nabi mencapai tempat yang tidak bisa dijangkau manusia lain (Sidratul Muntaha), beliau tetap kembali ke bumi untuk membimbing umatnya.

Penerapan Karakter: Hal ini mengajarkan filosofi kerendahan hati (tawadhu). Setinggi apa pun prestasi akademik atau jabatan yang diraih siswa di masa depan, mereka harus tetap membumi dan memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat di sekitarnya. Isra Mi’raj bagi siswa MAN Kota Surabaya adalah tentang “Melangitkan Doa, Membumikan Adab.” Sebuah pesan bahwa kecerdasan intelektual yang menembus langit harus dibarengi dengan karakter yang tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan kepatuhan kepada Sang Pencipta.

Penulis: Larasati Pitaloka (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Dokumentasi: Mirsa Iqbal, Nasywa, Dhafira (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Reportase: Athari, Talita (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Editor: Wiji Laelatul Jum’ah (Humas, Pembina Ekstrakulikuler Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *