#kankemenagkotasurabaya#
#mankotasurabaya#
#hadirsebagaiinspirasi#
(Surabaya – MAN Kota Surabaya)Riuh rendah suara siswa kelas XII Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Surabaya seketika luruh saat memasuki aula MAN Kota Surabaya, Senin (23/2/2026) pagi. Di bawah naungan langit Ramadhan yang teduh, para siswa ini tidak sedang mengejar angka-angka ujian yang selama ini menghantui meja belajar mereka. Akan tetapi, mereka sedang menempuh ujian yang lebih hakiki. Mereka belajar menata hati sebelum melangkah keluar dari gerbang sekolah.
Kegiatan Pondok Ramadhan gelombang pertama yang berlangsung pada Senin (23/2/2026) hingga Selasa (24/2/2026) ini menjadi momen sakral. Ada sekitar 400 siswa kelas XII yang aktif mengikuti kegiatan ini. Di tengah kesibukan administrasi kelulusan, sekolah justru mengajak para siswa “berhenti sejenak”. Bagi mereka, ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan pengalaman menginap terakhir di sekolah; sebuah perpisahan yang dibalut dengan sujud dan tadarus.

Mengenakan busana muslimah yang anggun, para siswi memenuhi aula besar sejak pukul 07.00 WIB. Suasana haru menyeruak di antara barisan mukena. Suci, salah satu siswi kelas XII, tak mampu menyembunyikan getar suaranya.
“Pondok Ramadhan kali ini sangat berkesan karena menjadi momen kebersamaan terakhir sebelum kami lulus. Selain mempererat ukhwah, kegiatan ini memberikan pembelajaran yang sangat bermakna bagi bekal hidup kami nanti,” ungkapnya lirih.
Adab di Atas Ilmu
Selama dua hari satu malam, kurikulum formal berganti menjadi kurikulum ruhani. Para siswa laki-laki mendalami tata cara shalat Jumat, sementara para siswi menyelami Kuliah Tujuh Menit (Kultum). Namun, pesan yang paling meresap di sanubari adalah saat Bapak Thoif menekankan satu prinsip fundamental: adab berada di atas ilmu. Ilmu yang tinggi tanpa akhlak hanya akan menjadi menara gading yang kehilangan keberkahannya.
Hal senada dipertegas oleh Bapak Alie Mudzakkir yang membedah rukun dan syarat ibadah. Beliau mengingatkan bahwa kualitas ibadah bukan hanya soal teknis gerakan, melainkan tentang menjaga kekhusyukan agar pahala tidak luruh sia-sia.
Puncak pendalaman spiritual terjadi saat Ibu Dzurriyyatun Najah, atau yang akrab disapa Bu Nyai, membuka lembaran kitab kuning At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an. Di depan layar videotron yang menampilkan deretan tulisan Arab gundul, para siswa menyimak dengan takzim. Ada yang mampu membaca dengan lancar, namun tak sedikit yang hanya bisa tersenyum simpul sembari mendengarkan—sebuah pemandangan yang menunjukkan bahwa hidayah bisa masuk lewat pintu mana saja, termasuk melalui rasa penasaran dan ketulusan.

“Ikutilah orang-orang yang ketika mengamalkan ilmunya, dia tidak meminta gaji. Boleh menerima, tapi biarlah itu melekat sebagai pengabdian kepada siswanya,” ujar Bu Nyai dengan nada meneduhkan.
Bagi beliau, ikhlas adalah kondisi di mana batin dan lahiriah bersenyawa tanpa celah. “Orang yang ikhlas itu, ketika dipuji dan dicela rasanya sama. Ia akan lupa terhadap segala kebaikan yang pernah dilakukan karena tujuannya hanya akhirat. Dan siapa yang mengejar akhirat, maka dunia akan ikut bersamanya,” tambahnya.
Kitab Kuning dan “Kurikulum Cinta”
Di balik teks-teks klasik kitab kuning yang dipelajari, tersimpan makna mendalam yang melampaui zaman. Belajar kitab kuning bukan sekadar mengeja bahasa Arab, melainkan menyelami sanad (mata rantai) keilmuan yang mengajarkan kerendahan hati. Dalam konteks pendidikan karakter di MAN Kota Surabaya, filosofi ini diterjemahkan menjadi “Kurikulum Cinta” yang dicanangkan Kementerian Agama.
Kurikulum ini bukan tentang romantisme, melainkan tentang mencintai Allah, mencintai sesama, dan mencintai proses belajar itu sendiri. Bagi generasi Z dan Alpha yang tumbuh di era disrupsi digital, pemahaman akhlak dari kitab kuning berfungsi sebagai “jangkar spiritual”. Di tengah gempuran arus informasi yang seringkali menumpulkan empati, akhlak menjadi kompas agar mereka tidak kehilangan kemanusiaannya.
Penajaman akhlak ini sangat krusial bagi masa depan mereka. Generasi masa depan tidak hanya butuh kecerdasan intelektual untuk bersaing dengan kecerdasan buatan (AI), tetapi butuh kecerdasan moral yang hanya bisa dipupuk melalui keteladanan dan keikhlasan. Di MAN Kota Surabaya, pendidikan karakter ini diintegrasikan agar para lulusan tidak hanya menjadi sarjana, tetapi menjadi pribadi yang memiliki iffah (menjaga kehormatan) dan muru’ah (martabat).
Menjaga Cahaya di Dalam Dada
Bu Nyai juga memberikan catatan khusus bagi para penghafal Al Qur’an. Menghafal bukan sekadar menyimpan teks dalam memori, tapi soal “sering melek” atau menghidupkan malam dengan cahaya ayat-ayat suci. “Beratnya menghafal adalah jika Al Qur’an tidak dibaca, maka ayat itu akan hilang. Begitu pula dengan akhlak; jika tidak diamalkan setiap hari, ia akan luntur dari jiwa,” terangnya tegas.

Melalui Pondok Ramadhan ini, MAN Kota Surabaya berharap para siswa kelas XII tidak hanya siap menghadapi perguruan tinggi secara akademik, tetapi juga matang secara moral. Nilai adab dan kesungguhan dalam beribadah diharapkan menjadi bekal yang tak akan habis dimakan waktu.
Pondok Ramadhan tahun ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan sejati bukanlah tentang seberapa banyak ilmu yang ditelan, melainkan tentang seberapa dalam karakter yang terbentuk. Saat mereka melangkah keluar dari gerbang sekolah nanti, mereka tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga membawa sebentuk cahaya ikhlas di dalam dada untuk menerangi masa depan yang penuh tantangan.
Kepenulisan: Dinda
Dokumentasi: Safina Maulia, Zalfa
Reportase: Fayruz Chalissa, Ajilah
Editor: Wiji Laelatul Jum’ah
#KementrianSemuaAgama#
