(Surabaya – MAN Kota Surabaya) Saat ini Kementrian Agama RI menggerakkan digitalisasi madrasah. Digitalisasi madrasah merupakan bentuk pendidikan modern. Pendidikan modern yang menghadirkan teknologi modern. Akibat digitalisasi tersebut, roda transformasi pendidikan di madrasah pun berubah.

Digitalisasi madrasah telah merambah sebagian besar ruang kelas konvensional. Ruang kelas konvensional madrasah tersebut telah bertransformasi menjadi ruang kelas modern. Tentu saja, hadirnya digitalisasi madrasah ini tidak lepas dari peran Kementrian Agama. Kementrian Agama RI, melalui Ditjen Pendis, selalu berupaya memberi layanan kepada madrasah di seluruh Indonesia, termasuk MAN Kota Surabaya.

Pada Rabu, 29 Juli 2026, Tim Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama Republik Indonesia melaksanakan pemantauan dan evaluasi (Monev) di MAN Kota Surabauya. Monev tersebut untuk mengukur keberhasilan pemanfaatan Program Digitalisasi Madrasah Tahun 2025.

Fokus utama peninjauan ini adalah memastikan efektivitas pemanfaatan bantuan perangkat Interactive Flat Panel (IFP)—papan tulis interaktif digital. Karena, Interactie Flat Panel (IFP)-papan tulis digital ini menjadi jembatan modernisasi sistem pembelajaran di madrasah.

Tim monitoring terdiri atas tiga pejabat Kementrian Agama RI. Mereka adalah tim Kementrian Agama RI yang berdedikasi tinggi. Tiga orang tim itu adalah Fajar Harnanto, S.S., M.M. (Auditor Ahli Pertama Inspektorat IV Itjen Kemenag), Muliyadi, S.Pd.I., M.Pd.I (Penata Kelola Madrasah Subdit Sarpras Ditjen Pendis Kemenag), serta Kusmen, A.Md. (Tim Sarana Prasarana Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur).

(Tim Monitoring dan Evaluasi Ditjen Pendis Kementrian Agama RI bersama Kepala MAN Kota Surabaya sedang meninjau penggunaan papan digital di kelas literasi)

Kehadiran mereka bukan sekadar mengaudit administratif. Mereka merawat akuntabilitas. Mereka memastikan bahwa setiap jengkal fasilitas negara, benar-benar menyentuh esensi kemajuan siswa.

Rangkaian kegiatan monev ini dirancang secara komprehensif. Tim melakukan pemeriksaan fisik dan pencocokan dokumen secara cermat. Mereka memastikan kesesuaian nama barang, jumlah unit, hingga spesifikasi teknis perangkat IFP. Hal ini dilakukan untuk menyelaraskan data.

Tak hanya berhenti pada urusan administratif. Tim berjalan menyusuri sudut-sudut madrasah. Mereka meninjau langsung penempatan perangkat pintar tersebut. Perangkat pintar yang kini telah berdiri anggun di ruang-ruang kelas, ruang kepala madrasah, hingga perpustakaan. Setiap layar sentuh digital yang terpasang itu akan menjadi saksi bahwa gelombang digitalisasi telah menyapa ruang-ruang sunyi madrasah.

Fajar Harnanto, S.S., M.M, mewakili Tim Kementerian Agama menegaskan tentang pentingnya pengawalan program. Pegawalan program strategis ini dilakukan secara transparan dan akuntabel.

”Kehadiran kami di sini bukan semata-mata untuk mencari ketidaksesuaian. Akan tetapi, kami akan memastikaan bahwa setiap rupian uang negara yang ditransformasikan menjadi fasilitas digital ini, benar-benar dirawat dengan baik. Harapan terbesar kami, hal tersebut dapat mendatangkan kemaslahatan nyata bagi keberlangsungan pendidikan di madrasah, khususnya untuk anak-anak bangsa” ujarnya.

Tentu saja, kehadiran teknologi mutakhir ini disambut hangat oleh pimpinan madrasah. Menurut Drs Fathorrahman M.Pd, Kepala MAN Kota Surabaya, bantuan IFP menjadi katalisator utama dalam mempercepat program digitalisasi. Hal ini adalah wujud tercapainya akselerasi transformasi teknologi pembelajaran.

”Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas bantuan IPF ini. Hadirnya teknologi akan menjadi katalisator utama percepatan program digitalisasi. Akselerasi dalam trasnformasi teknologi pembelajaran akan menciptakan dinamika baru di ruang kelas. Tentu saja, teknologi ini mempermudah guru dalam mengajar. Siswa juga merasa senanag. Transformasi ilmu pengetahuan dalam kelas pun semakin mudah dijalankan. Teknologi ini juga mampu menciptakan kekayaan wawasan baik dari guru maupun siswa,” jelas Fathorrahman.

Perangkat canggih tersebut memang meruntuhkan batasan konvensional. Ia mempermudah akses guru terhadap ragam media pembelajaran digital. Perangkat ini mampu menyulap suasana kelas menjadi jauh lebih hidup, dinamis, serta memikat. Sentuhan teknologi modern akan memperkaya metode ajar. Ia menjadi bahan bakar utama untuk mendongkrak prestasi belajar siswa.

Wajah-wajah ceria turut memancarkan energi positif dari para siswa. Dengan mata yang binar, mereka menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Kementerian Agama.

”Belajar dengan papan tulis digital ini sangat menarik. Tentu saja kami sangat senang, terima kasih kami sampaikan kepada pihak Kementrian Agama,” ungkap salah satu siswa dari kelas XII -K.

Bagi mereka, teknologi digitalisasi telah menciptakan proses belajar menjadi petualangan yang menyenangkan. Materi pelajaran yang dulunya rumit kini terasa lebih renyah dan mudah dipahami. Teknologi ini terasa mampu mengikis habis rasa jenuh yang melanda para siswa. Khususnya saat mereka berada didalam kelas pada jam terakhir pelajaran.

”Ada suara, ada gambar, ada video wah pokoknya asyik, bersyukur sekali,” sela salah seorang siswa dari kelas XII G.

Di balik senyum itu, terselip secercah harapan lugu. Dari lubuk hati para siswa, mereka berharap agar kelak jumlah bantuan IFP ini terus ditambah. Tentunya, jumlah IPF yang bertambah tersebut akan menghiasi setiap ruang kelas secara merata.

(Proses monitoring dan evaluasi oleh Ditjen Pendis Kementrian Agama RI di ruang kepala madrasah)

Digitalisasi madrasah menjadi wujud hadirnya teknologi canggih di madrasah. Namun, pada hakikatnya, hadirya dgitalisasi teknologi di madrasah, hanyalah sebuah wadah. Di tangan para guru yang berjiwa besar dan anak-anak yang haus akan ilmu, wadah tersebut telah menjelma menjadi ruang kebudayaan. Ruang kebudayaan yang menjadi tempat peradaban masa depan ditempa. Digitalisasi madrasah bukan sekadar memindahkan buku ke dalam layar sentuh. Digitalisasi madrasah merupakan proses menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi pada diri setiap anak bangsa.

Pendidikan yang humanis tidak boleh membiarkan satupun anak tertinggal di belakang rel kemajuan zaman. Ketika sebuah layar interaktif menyala di ruang kelas madrasah, itu artinya negara sedang merawat mimpi-mimpi anak bangsa. Hal tersebut diupayakan agar mereka mampu berdiri sejajar dengan dunia luar. Memegang gawai pintar atau papan interaktif adalah melatih jemari mereka untuk merajut masa depan. Masa depan anak Indonesia yang lebih cerdas, beradab dan bermartabat. Digitalisasi madrasah menyimpan pesan pendiri bangsa bahwa kecerdasan adalah hak setiap anak. Dan, teknologi menjadi jalan terang untuk membumikannya.

Penulis : Wiji Laelatul Jum ah (Humas, Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *