(Surabaya – MAN Kota Surabaya) Mengisi bulan suci dengan kegiatan substantif, siswa kelas X MAN Kota Surabaya menyelenggarakan Pondok Ramadan pada 2-3 Maret 2026. Bertempat di lingkungan madrasah, kegiatan ini berlangsung dalam balutan kekhusyukan dan semangat kebersamaan yang kental.
Pondok Ramadan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan manifestasi program pembinaan karakter. Sekolah menempatkan agenda ini sebagai pilar penting dalam memupuk nilai keimanan serta ketakwaan siswa di tengah dinamika zaman.
Seluruh siswa kelas X mengikuti rangkaian acara dengan antusiasme tinggi. Selama dua hari, mereka terlibat dalam berbagai agenda terstruktur yang dirancang khusus untuk memberikan dimensi edukatif sekaligus spiritual.
Rangkaian ibadah dimulai dengan shalat Dhuha berjamaah dan tadarus Al Quran. Acara dibuka dengan lantunan shalawat Al-Banjari, diikuti pembacaan ayat suci. Dalam sambutannya, Kepala Madrasah Drs. H. Fathorrakhman, M.Pd, bersama Ketua Pokjawas Kemenag Dr. H. Wahyu, M.Pd.I, menekankan bahwa Ramadan adalah momentum krusial untuk memperbaiki diri (perubahan internal) dan meningkatkan kualitas kedekatan kepada Sang Pencipta.

Memasuki sesi inti, siswa menerima materi mengenai Moderasi Beragama Wasathiyyah. Materi ini mengajak siswa untuk mengambil jalan tengah dan menghindari sikap ekstrem. Di sini, ditekankan pentingnya “Hati yang Tulus” dalam membangun kesadaran situasional, yakni keseimbangan antara kadar (kemampuan ilmu) dan adab (etika memposisikan diri).
Setelah jeda shalat Dzuhur berjamaah, materi beralih pada aspek fikih, yakni tata cara bersuci (thaharah) yang disampaikan oleh Ibu Dzurriyahtun Najah. Penjelasan mendalam diberikan mengenai distingsi antara hadas dan najis. Hadas dipahami sebagai sesuatu yang bersifat internal tubuh, sementara najis berasal dari faktor eksternal.
Pemahaman siswa diperdalam dengan klasifikasi tiga jenis najis beserta prosedur pensuciannya sesuai syariat. Edukasi ini juga mencakup pengenalan air musta’mal serta panduan praktis mengenai tayamum, wudhu, dan mandi besar, lengkap dengan pelafalan niat yang benar.
Aspek teoretis tersebut diperkuat dengan praktik langsung. Siswa diberikan pemahaman kontekstual, misalnya mengenai pembatalan tayamum saat air ditemukan, guna memastikan ibadah dijalankan dengan landasan ilmu yang presisi.

Antusiasme siswa tetap terjaga sepanjang rangkaian acara. Bagi mereka, momen ini menjadi ruang untuk mengkalibrasi kualitas ibadah. Suasana kebersamaan yang cair namun tetap khusyuk menjadi warna dominan dalam setiap sesi yang berlangsung.
Menjelang senja, aktivitas berlanjut dengan shalat Ashar berjamaah dan kajian kitab kuning. Puncak kebersamaan terasa saat momen berbuka puasa bersama, yang kemudian dilanjutkan dengan shalat Tarawih, tadarus, hingga tradisi khatmil Quran.
Ritme spiritual berlanjut pada dini hari melalui qiyamul lail dan sahur bersama. Rangkaian kegiatan ditutup setelah shalat Subuh dan kajian kitab kuning terakhir, menandai berakhirnya masa mukim singkat para peserta.
“Hari ini saya sangat senang dapat mengikuti kegiatan pondok Ramadhan untuk pertama kalinya di MAN Kota Surabaya. Di kegiatan ini saya bisa mendapatkan materi yang sebelumnya belum pernah saya pelajari,” ungkap Muhammad Filza Ardiansyah, siswa kelas X-B.
Hal senada juga disampikan beberapa siswa yang mengaku mendapatkan perspektif baru. Ais Shohihah dan Neva Mufidah dari kelas X-F, misalnya, merasa terkesan dengan pengalaman berbuka bersama di aula. “Ada rasa haru dan kebahagiaan tersendiri saat menikmati takjil bersama teman sekelas tepat setelah azan berkumandang,” ujar Ais, Rabu (4/3/2026).
Ais dan Neva juga menyoroti materi Adabul Masajid (Adab di Masjid) yang disampaikan Ustad Muhammad Thoif. Mereka mempelajari bahwa masjid memiliki dimensi spiritual yang luas, termasuk kewajiban beruluk salam meski ruangan tampak kosong sebagai bentuk penghormatan kepada penghuni gaib seperti malaikat.
Selain itu, siswa diajarkan untuk memfungsikan masjid murni sebagai ruang zikir dan doa. “Jika ada barang hilang, kita diajarkan untuk tidak gaduh mencarinya di dalam, namun berkoordinasi dengan takmir. Ini adalah soal etika di rumah Tuhan,” jelas Neva saat berbagi hasil literasinya.
Bagi Ais yang sebelumnya mengenyam pendidikan di SMP umum, pengalaman ini adalah hal baru yang menyentuh. Baginya, mengikuti kajian kitab kuning dan tadarus bersama teman madrasah memberikan getaran spiritual yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Guru pembimbing berharap dampak positif ini melampaui dinding sekolah. Pondok Ramadan diharapkan menjadi jangkar bagi siswa dalam menerapkan nilai keislaman di rumah maupun di lingkungan sosial mereka masing-masing.

Melalui agenda ini, MAN Kota Surabaya berupaya mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam kecakapan akademik, tetapi juga tangguh secara moral dan spiritual. Disiplin dan tanggung jawab diharapkan menjadi karakter yang melekat.
Berakhirnya Pondok Ramadan diharapkan menjadi awal bagi siswa untuk konsisten mempraktikkan ilmu yang didapat. Dengan demikian, Ramadan benar-benar berfungsi sebagai madrasah bagi jiwa untuk meningkatkan kualitas iman secara berkelanjutan.
Pondoh Ramadhan MAN Kota Surabaya yang digelar selama tiga gelombang ini, cukup memberi pembelajaran tentang Keseimbangan Kosmos Manusia. Di mana ilmu (intelektual) harus berjalan beriringan dengan adab (moralitas). Seperti air yang menyucikan, pendidikan agama bukan sekadar pembersihan kotoran lahiriah (ritual), melainkan upaya menjernihkan batin agar mampu bersikap moderat (Wasathiyyah) di tengah keberagaman dunia.
Kepenulisan: Aulia Salsabilla (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
Reportase: Zaskia Eka, Daffa Almer (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
Dokumentasi: Fathia Nadhif, Naayla Azkamarinda (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
Editor: Wiji Laelatul Jum’ah (Humas, Pembina Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
