(Surabaya – MAN Kota Surabaya)  Sebagai madrasah yang menyandang predikat Zona Integritas, MAN Kota Surabaya dituntut harus mampu melakukan perubahan. Banyak perubahan yang lebih baik telah dilakukan. Pembenahan fasilitas madrasah beserta perangkatnya terus berjalan. Berbagai inovasi juga lahir di madrasah ini.

Salah satu elemen penting dari zona integritas madrasah adalah mewujudkan madrasah ramah anak. Dalam konsep madrasah ramah anak, ruang belajar diberikan secara adil kepada seluruh anak. Termasuk diberikan kepada anak dengan kebutuhan khusus atau keterbatasan mental dan fisik.

Filosofinya, madrasah inklusi adalah sebuah rumah spiritual yang memberikan kasih sayang tanpa syarat kepada setiap keunikan manusia. Madrasah bukan tempat menyeragamkan takdir, melainkan ruang untuk memanusiakan manusia serta menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Karena itu, menanamkan pemahaman pendidikan inklusi kepada seluruh warga madrasah mutlak diperlukan.

Menggandeng Penerbit Erlangga, MAN Kota Surabaya memfasilasi para guru dan karyawan untuk berliterasi tentang pendidikan inklusi. Seminar strategi pendidikan inklusi untuk MAN Kota Surabaya digelar pada Rabu, 11 Juni 2026. Kegiatan ini cukup memberi wawasan baru bagi seluruh guru dan karyawan. Ada 116 guru dan karyawan mengikuti acara itu. Hadir juga beberapa pimpinan lembaga pendidikan madrasah (MA) swasta. Forum seminar yang dilaksanakan di Aula MAN Kota Surabaya pun menjadi ajang transformasi ilmu pengetahuan tentang pendidikan inklusi. Sebagian besar peserta merasa mendapatkan ilmu baru. Khususnya ilmu pendidikan inklusi.

Dr. Muhammad Muslim, S.Ag. M.Sy. Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Surabaya

Garis besarnya, seminar itu menghadirkan Kepala SMAM X Surabaya, Salim Bahrisy. Ia telah sukses mengimplementasikan pendidikan inklusi di SMAM (Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah) X Kota Surabaya. Lembaga pendidikan ini memberi ruang belajar yang luas kepada anak-anak inklusi. Saat ini, lembaga pendidikan tersebut menjadi percontohan nasional pelaksanaan pendidikan inklusi.

Dalam statement sambutannya, Fathortrahman, Kepala MAN Kota Surabaya menyampaikan pentingnya para guru dan karyawan menyimak ilmu pada kegiatan ini dengan baik.

”Di MAN Kota Surabaya, belum ada pendidikan inklusi. Karena, kami belum punya tenaga khusus. Sehingga, dikhawatirkan siswa inklusi belum terlayani dengan baik,” katanya.

”Kegiatan ini sangat baik dan penting bagi MAN Kota Surabaya. Terlebih, MAN Kota Surabaya sudah melakukan penilaian Zona Integritas,” lanjutnya.

”Seminar ini harus benar-benar diperhatikan. Kami berharap semua guru dan karyawan benar-benar paham inti materi dari seminar. Terima kasih juga kami sampaikan kepada Penerbit Erlangga yang sudah memfasilitasi kegiatan ini. Serta narasumber (Kepala SMAM X Surabaya), yang sekolahnya sudah menerapkan pendidikan inklusi,” lanjut Fathortrahman.

Drs. Fathorrahman, M.Pd, Kepala MAN Kota Surabaya

Sementara itu, Dr. Muhammad Muslim, M.Sy., Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya menyampaikan bahwa pendidikan menjadi hak mutlak bagi seluruh anak bangsa. Madrasah yang ramah anak adalah rumah bersama bagi anak. Di sinilah hakikat Kurikulum Cinta yang dicanangkan Kementerian Agama menemukan bentuknya. Kurikulum ini tidak mendasarkan pendidikan pada angka-angka kaku, melainkan pada ketulusan hati, empati, dan penerimaan penuh terhadap kondisi setiap anak.

”Memberikan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus adalah hal yang luar biasa. Saat itu, saya menyaksikan sendiri, ada anak-anak berkebutuhan khusus belajar membaca Al-Qur’an. Masya Allah, saya terharu sekali. Saya menangis waktu itu. Betapa anak-anak seperti ini memiliki hak yang sama untuk belajar,” kata DR. Muhammad Muslim. Sebuah pengakuan jujur yang menyentuh hati dan menggugah emosi terdalam para peserta.

”Berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus adalah hal yang berat, Bapak Ibu. Energi yang diperlukan untuk mengajari mereka sangat besar. Mereka adalah anak-anak bangsa titipan Allah yang juga perlu disayangi,” lanjut beliau dengan ungkapan yang terasa begitu dalam, menggetarkan ruang aula.

”Bapak Ibu, pada setiap takdir yang diberikan oleh Allah kepada manusia, pasti ada hal positif. Ada hal yang berguna. Membina ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) memang sangat berat. Jika MAN Kota Surabaya mampu melaksanakan, ini akan menjadi salah satu bentuk persembahan Kepala MAN Kota Surabaya menjelang masa purna tugas. Orang hebat adalah orang yang menemukan atau melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Ini memang berat dan sangat berat. Tapi ini akan menjadi tantangan, cerita, dan nilai tersendiri,” lanjutnya penuh ketulusan.

Salim Bahrisy, Kepala SMAM X Surabaya, kemudian memaparkan implementasi pendidikan inklusi di sekolahnya. Ia menempatkan anak-anak berkebutuhan khusus duduk sejajar dengan anak-anak normal. Mereka berada dalam satu kelas yang sama dan mendapatkan hak belajar yang sama. Ia banyak menyelami jiwa anak-anak inklusi di sekolahnya. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan cinta kepada mereka.

”Ada diferensiasi yang kami sampaikan dalam sistem pembelajaran. Mereka berada sejajar dalam kelas yang sama dengan anak-anak normal. Berbaur dengan anak-anak normal. Akan tetapi, nilai angka sepuluh untuk anak normal dengan angka sepuluh untuk anak-anak ABK memiliki makna dan muatan berbeda. Tingkat pencapaiannya berbeda. Misalnya, pada ilmu hitung. Nilai sepuluh pada anak normal, capaiannya adalah dia mampu menyelesaikan berbagai soal-soal berhitung (matematika) dengan standar kurikulum SMA. Sementara, pada anak-anak berkebutuhan khusus, nilai sepuluh, capaiannya hanya sampai pada tambah-tambahan, misalnya,” jelasnya secara analitis.

Salim Bahrisy, Kepala SMAM X Surabaya, pemateri

Salim Bahrisy juga menyampaikan beberapa cerita humanis tentang anak-anak inklusi yang dipimpinnya. Menurutnya, mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan waktu dan perhatian ekstra. Ia juga menjelaskan tentang upaya menemukan pemahaman dan kesepakatan yang sama bagi seluruh warga sekolah.

”Anti-perundungan (anti-bullying) kita gaungkan secara terus-menerus. Setiap hari, setiap saat, kita gaungkan anti-bullying. Kita sampaikan. Jika ada pertanyaan ini memulainya dari mana? Jawabannya ya dari diri kita sendiri. Dari para guru sendiri, tidak boleh ada bullying. Ayolah kita ini bersama, saling menyayangi di antara kita semua. Tidak perlu ada bullying di antara kita. Kalimat ini yang sering dan selalu kita sampaikan secara bersama, sampai hari ini,” lanjutnya komunikatif.

Selanjutnya, ia membedah perbedaan konsep eksklusi, segregasi, integrasi, dan inklusi. Menurutnya, eksklusi adalah sistem sekolah yang menempatkan anak-anak tertentu (ABK) tanpa diberikan akses sama sekali ke sistem pendidikan. Segregasi merupakan sistem sekolah dengan pola pengasuhan anak yang dipisahkan dalam lingkungan belajar khusus, misalnya hanya di SLB.

Sementara itu, integrasi adalah sistem pendidikan dengan pola pengasuhan di mana anak masuk ke sekolah reguler, tetapi harus memisahkan diri dengan sistem yang ada. Terakhir adalah inklusi. Inklusi merupakan sistem sekolah yang secara sadar berubah dan beradaptasi untuk menyambut sesama anak.

Bagi Salim Bahrisy, totalitas memberikan pendidikan dan perhatian kepada anak-anak ABK adalah hal utama. Ia menyampaikan beberapa karakter anak-anak ABK. Ada peserta didik dengan autistic spectrum. Ada peserta didik dengan hambatan pendengaran, peserta didik dengan hambatan penglihatan, dan peserta didik cerdas istimewa berbakat. Ada juga peserta didik dengan hambatan majemuk, peserta didik dengan hambatan motorik, dan peserta didik dengan hambatan intelektual.

Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Surabaya, Kepala MAN Kota Surabaya, Kepala SMAM X Surabaya, Ibu -ibu Dharma Wanita Persatuan MAN Kota Surabaya, bersama seluruh peserta semninar.

”Semua karakter peserta didik dengan beberapa hambatan tersebut membutuhkan penanganan berbeda. Saya sering dicari anak-anak ABK itu. Ada yang hanya sekadar minta salim. Ada pula yang hanya sekadar minta dipeluk. Setelah mereka menemui saya, mereka langsung tenang dan kembali beraktivitas. Ada juga yang setiap pagi mencari mobil saya. Mana mobilnya Pak Salim? Banyak sekali cerita,” katanya tersenyum hangat.

”Di sini saya hanya menyampaikan cerita pengalaman saya memimpin sekolah inklusi. Untuk segala teori-teori pendidikan anak ABK, nanti bisa disampaikan oleh para pakar dari kampus,” lanjutnya merendah.

Para peserta seminar memperhatikan cerita yang disampaikan Salim dengan seksama. Sesekali di antara Bapak dan Ibu guru ini tertawa dan bertepuk tangan mendengarkan cerita pengalaman tersebut. Suasana aula terasa begitu hidup dan hangat.

Beberapa guru juga mengajukan pertanyaan. Ada guru yang memiliki pengalaman mengajar anak-anak ABK menanyakan tentang pola penanganan anak-anak ABK di sekolah inklusi. Ada juga yang menanyakan tentang cara siswa normal beradaptasi dengan anak-anak ABK. Serta, tentang pengakuan status anak-anak inklusi ini di laman Kementerian Agama.

Pertanyaan terakhir berfokus tentang bagaimana membangun ekosistem pendidikan inklusi di madrasah yang memiliki beragam karakter siswa. Menurut Salim Bahrisy, membangun ekosistem pendidikan inklusi itu berawal dari berbagai habitat-habitat kecil yang ada di madrasah.

“Kalau masing-masing habitat kecil di madrasah ini memiliki suara yang sama, rasa yang sama, dan kasih sayang yang sama, ekosistem itu akan terbentuk dengan sendirinya,” tegas Salim.

Lembaga pendidikan yang menerapkan pendidikan inklusi ibarat sebuah laboratorium tempat masa depan anak bangsa dipertaruhkan. Dalam perjalanan sejarahnya, laboratorium ini sering kali menerapkan standar yang rigid dan kaku. Anak-anak yang tidak memenuhi standar tersebut perlahan terpinggirkan dan terlupakan.

Oleh karena itu, reposisi arah pendidikan menuju sistem yang inklusif kini mendesak dilakukan. Ini merupakan konsep mulia yang menuntut madrasah bukan hanya sekadar tempat transfer ilmu semata. Melainkan, menjadi serpihan ekosistem ramah bagi setiap hulu keunikan manusia. Sebuah ruang yang tulus memanusiakan manusia, serta menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.

Penulis: Wiji Laelatul Jum’ah

(Humas, Pembina Ekskul Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *