(Surabaya – MAN Kota Surabaya) MAN Kota Surabaya menjadi saksi terselenggaranya acara Creative Talk bertajuk “Goes to MAN Surabaya.” Acara ini digelar pada Kamis, 6 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 15.00 WIB ini menghadirkan dua narasumber inspiratif. Lena, seorang penulis muda yang banyak menulis buku best seller. Dan, Tri Prasetyo, Pemimpin Redaksi Penerbit Gradien Mediatama. Keduanya berasal dari Kota Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi para siswa MAN Kota Surabaya untuk manumbuhkan inspirasi menulis. Selain itu, kegiatan ini juga bisa menjadi media ekspresi penyembuhan diri.
Sebanyak 250 siswa dari kelas X dan XI berada dalam aula besar MAN Kota Surabaya. Mereka mengikuti Creative Talk Coretan Lena. Penampilan kesenian Al Banjari yang dibawakan oleh kelompok ekstrakurikuler Al Banjari MAN Kota Surabaya, menjadi awal dimulainya acara ini. Saat Ibu Wiji, sebagai host, menyapa para peserta, suasana menjadi semakin semarak.
”Menulis sejatinya bukan sekadar merangkai kata di atas kertas. Melainkan sebuah tindakan merekam jejak peradaban. Dalam setiap goresan pena, ada pemikiran yang diabadikan. Ada sejarah kecil yang diselamatkan dari kelupaan. Dan, ada jembatan empati yang dibentangkan antar manusia. Iya…beri applause dong untuk dua narasumber kita kali ini,” kata Ibu Wiji, guru Bahasa Indonesia, saat itu menjadi host. Beliau menyapa anak – anak.
Seketika suasana ruangan menjadi semakin semarak. Para siswa menyambut dengan berinar penuh semangat. Kalimat itu mampu menjadi pemantik semangat para siswa untuk memulai acara.
Selanjutnya acara pun dibuka oleh Ibu Enny Subhandini, Waka Kurikulum MAN Kota Surabaya. Beliau memberi pesan bagi anak-anak. Dalam salah satu statement sambutannya, beliau menyampaikan bahwa menulis itu sangat penting terutama bagi anak- anak. Beliau juga menyampaikan terimakasih kepada pihak penulis dan penerbit. Mereka datang dari Kota Yogjakarta ke Surabaya untuk melakukan Road Show Creative Talk Coretan Lena Goes to School.
Setelah dibuka oleh Ibu Enny Subhandini, acara dilanjutkan perkenalan sekaligus penyampaian materi oleh Bapak Tri Prasetya, pemimpin redaksi Gradien Mediatama Yogjakarta.
Tri Prasetya menyampaikan tentang fenomena generasi muda saat ini. Dunia sosial media yang semakin marak. Banyak memunculkan tulisan-tulisan pendek dari tangan-tangan anak muda. Tulisan pendek itu bertebaran di sosial media. Sosial media menjadi curhat anak – anak remaja. Mereka mengungkapkan kegelisahan hatinya.
”Kami menemukan Lena dari sosial media. Lena merupakan salah satu dari sekian juta anak muda yang mengalami kegelisahan hati. Lewat tulisan-tulisan kecil itulah penerbit Gradien Mediatama Yogjakarta tertarik untuk membimbingnya. Empat tahun kami membimbing Lena. Saat ini, ia sudah memiliki enam buku. Keenam buku tersebut, semuanya best seller,” ungkap Tri Prasetya.

“Lena merupakan seorang gadis remaja yang mengalami kegelisahan batin. Kegelisahan batin yang luar biasa dalam. Sejak berusia SMP, kedua orang tuanya bercerai. Ia menyaksikan sendiri proses perselisihan kedua orangtuanya. Ia juga menyaksikan perceraian mereka. Di sinilah kegelisahan batin itu ia tulis. Sedikit demi sedikit, ia menulis. Media sosial menjadi tempat curahan hatinya. Dari tulisan-tulisan pendek itu, kami menemukan sebuah kegelisahan batin seorang gadis remaja. Broken home, itulah yang dialami Lena., ” cerita Bapak Tri Prasetyo, pimpinan redaksi Gredien Mediatama Yogjakarta.
”Lena hidup sendiri, tanpa pendampingan orang tua. Asalnya dari Garut Jawa Barat. Dari karya – karya itulah, Lena bisa berangkat Umroh dengan biaya dia sendiri. Saat ini, ia bersekolah di Sekolah Ilmu Kesehatan tingkat empat, sekolah kesehatan setingkat SMA. Lena ini, salah satu penulis muda yang dimiliki oleh penetrbit Gradien Mediautama Yogjakarta. Berkaitan dengan kepenulisan, akhirnya saat ini ia berpindah tempat tinggal. Kini, ia menetap di Yogjakarta,” ungkapnya saat ditemui khusus tim jurnalistik MAN Kota Surabaya.
Para siswa mendengarkan dengan seksama. Saat host memberikan pertayaan kepada Lena, sang penulis muda.
”Kalau tadi dikisahkan tentang perjumpaan Mbak Lena dengan penerbit melalui sosial media. Nah bisa diceritakan tentang proses kreatif Mbak Lena menjadi penulis, yang berawal dari sosial media,” kata Bu Wiji kepada Lena.
Lalu, Lena mulai membuka perbincangan. Ia memulai dengan pemutaran video tentang dirinya. Lena dengan kekalahan masa lalu, digambarkan dalam video dengan background berwarna hitam. Para siswa memperhatikan dengan lebih serius. Terdengat suara alunan musik mengiringi video. Ditambah lagi dengan kalimat – kalimat pendek tentang kegelisahan Lena, menciptakan sebuah tayangan yang memikat emosi para siswa.
Dalam video itu, Lena menyoroti fenomena sosial yang sering terjadi yaitu rasa iri atas pencapaian orang lain. Meski ia sudah memiliki banyak prestasi dan karya. Hanya bisa bertahan hingga saat ini adalah pencapaian terbesar bagi dirinya. Inilah yang patut dia syukuri.
“Bertahan hingga hari ini adalah pencapaian terbesar saya,” ujarnya. Ia juga memahami perasaan tidak percaya diri. Menurutnya, hal ini juga dirasakan oleh setiap orang yang telah hadir.
Memasuki sesi interaktif. Sesi berbagi cerita. Banyak para siswa yang mengangkat tangan untuk menyampaikan cerita. Para siswa terlihat semangat dan antusias. Ada beberapa siswa yang mendapat hadiah buku. Lena mengaitkan menulis dengan kemampuan bertahan hidup. Menurutnya, menulis, yang kini menjadi profesinya, sebenarnya berawal dari kebiasaan dia penyaluran emosi dan ekspresi diri.

“Dengan menulis, kita bisa menyampaikan aspirasi diri sendiri,” tuturnya.
Ia memperkenalkan salah satu karyanya yang berjudul ’Ternyata Sejak Kecil, Aku Hanya Ingin Dicintai.´Karya ini merupakan buku ke-6 hasil jurnal pribadinya. Buku ini menceritakan perjalanan kembali ke luka masa kecil. Setelah ia menerima banyak kekalahan. Ia juga menyuarakan keinginan untuk hidup bahagia.
Dalam kesempatan tersebut, Lena mengajak para peserta untuk merenungkan perasaan mereka sejak kecil hingga dewasa. Ia menyampaikan bahwa banyak luka yang hadir. Diri kecil yang belum merasa bahagia. Salah satunya disebabkan oleh luka pengabaian di masa lalu.
“Kamu yang kecil, gimana kabarnya?” tanyanya menggugah. Pertanyaan itu membuka ruang bagi para siswa untuk merenungkan masa kecil mereka.
Sesi interaktif pun dimulai ketika Lena memberikan mikrofon kepada salah satu peserta. Sesi berbagi ceritapun dimulai. yang ingin berbagi cerita.
Seorang siswi bernama dari kelas X-H dengan jujur mengungkapkan bahwa pada usia 5 tahun, ia belum pernah merasakan kasih sayang penuh dari orang tuanya. Ia menceritakan rasa iri saat melihat teman-temannya ditemani orang tuanya pada acara wisuda.
“Banyak luka yang dihadapi, hingga untungnya saya menemukan tempat yang baik dan nyaman,” ungkapnya dengan haru. Ia berharap masih ada harapan untuk bisa merasakan kebahagiaan seperti anak-anak lainnya.
Lena menanggapi dengan penuh empati. ”Mungkin tidak ada yang menemani kita. Namun, percayalah bahwa di lubuk hati kita, diri kita sendirilah yang menemani,” katanya.
Memasuki sesi interaktif. Sesi berbagi cerita ini, banyak para siswa yang mengangkat tangan. Mereka ingin menyampaikan cerita. Para siswa terlihat semangat dan antusias. Ada beberapa siswa yang mendapat hadiah buku.
Di akhir sesi, Lena menyampaikan pesan mendalam. Menurutnya, pertemuan kali ini menjadi momen untuk pengingat bahwa dalam diri kita ada luka yang tidak pernah kita ungkapkan kepada siapapun.
“Terima kasih sudah merayakan sepi bersamaku,” katanya mengutip halaman bukunya sebagai bentuk apresiasi.
Lena memberikan buku bagi para peserta yang berani menyampaikan kesan dan pesan mereka. Salah satu penerima buku adalah Awan dari kelas XI-J. Awan menceritakan pengalamannya. Ia mengalami hal yang tidak menyenangkan saat dulu sekolah. Ia juga menyadari bahwa bukan hanya ia yang merasakan hal serupa.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta yang hadir. Talk Show Coretan Lena menyampaikan pesan, “Menulis adalah cara kita memberikan kontribusi abadi bagi generasi bangsa, karena apa yang dituliskan tetap ada dalam sejarah. Ambil penamu, lihat realita di sekitarmu, dan mulailah langkahmu. Bunga melatih harum baunya, jangan biarkan ide jadi lamunan. Goreskan pena abadikan jadi cerita,” kata Bu Wiji yang saat itu hadir sebagai host.
Road Show Creatif Talk Coretan Lena Goes To School, tidak berhenti di MAN Kota Surabaya. Ada empat SMA yang menjadi tujuan. Pada Sabtu 8 Agustus 2026, Road Show ini berlanjut ke Gramedia, pada Senin 10 Agustus ke Bank Indonesia dan pada Kamis 13 Agustus 2026 terbang ke Jambi. Rute berikutya menuju ke beberapa kota-kota di Indonesia. Begitu banyak tempat yang dikunjungi. Di situlah Lena membagikan cerita menebar inspirasi.
Creative Talk ini menjadi bukti bahwa menulis bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan juga terapi emosional dan sarana untuk menyuarakan kegelisahan hati. Melalui kegiatan ini, MAN Kota Surabaya berhasil menciptakan ruang aman bagi para siswa untuk berbagi, merenung, dan merayakan sepi bersama.
Creative Talk MAN Kota Surabaya ini diprakarsai oleh Ibu Hanim sebagai kepala perpustakaan MAN Kota Surabaya. Bekerja sama dengan Ibu Reni Kusumaningrum sebagai Ketua MGMP Bahasa Indonesia MAN Kota Surabaya beserta guru-guru Bahasa Indonesia lainnya. Kolaborasi beberapa elemen madrasah dengan menghadirkan dua narasumber dari Yogjakarta ini cukup menjadi pemantik inspirasi siswa untuk menulis. Ini sebuah ruang perjumpaan literasi untuk membedah karya, menyelami kedalaman proses kreatif. Dan tersirat makna bahwa dari tangan generasi mudalah narasi besar bangsa ini dituliskan.
Reportase: Talita, Farida (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
Dokumentasi: Luqman, Farida (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
Kepenulisan: Citra (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
Editor : Wiji Laelatul Jum ah (Humas, Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik MAN Kota Surabaya)
