(Surabaya – MAN Kota Surabaya) Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan pemahaman siswa tentang dunia keuangan dan ekonomi, MAN Kota Surabaya mengadakan kegiatan BI Mengajar yang menghadirkan narasumber langsung dari Bank Indonesia. Melalui kegiatan BI Mengajar, siswa MAN Kota Surabaya dapat semakin memahami fungsi Bank Indonesia serta memiliki kesadaran yang lebih baik dalam mengelola keuangan dan memanfaatkan layanan keuangan digital secara cerdas, aman, dan bertanggung jawab di era digital ini.

Kegiatan BI Mengajar dilaksanakan pada Kamis, 18 Juni 2026, bertempat di Aula Asrama MAN Kota Surabaya. Sebanyak 50 siswa siswi dari perwakilan kelas X dan XI IPS mendengarkan dan menyimak materi yang disampaikan pihak Bank Indonesia dengan penuh antusias. Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti seluruh peserta dengan khidmat. Selanjutnya, Kepala MAN Kota Surabaya, Drs. H. Fathurrahman, menyampaikan sambutan sekaligus ucapan terima kasih kepada Bank Indonesia atas kesempatan yang diberikan kepada para siswa untuk memperoleh pengetahuan langsung dari para ahli di bidang ekonomi dan keuangan.

Menyanyikan Lagu Indonesia Raya

Sebelum materi dimulai diadakan pre test mengenai dua materi yang akan diusung pada hari ini yaitu pertama, Perencanaan dan Distribusi Rupiah. Kedua, Digitalisasi Sistem Pembayaran. Materi pertama mengenai Perencanaan dan Distribusi Rupiah disampaikan oleh Bapak Priyambodo dari tim Bank Indonesia. Pada sesi ini dijelaskan bahwa pengelolaan uang rupiah dilakukan melalui enam tahapan atau dikenal dengan 6P, yaitu Perencanaan, Pencetakan, Pengeluaran, Pengedaran, Pencabutan dan Penarikan, serta Pemusnahan. Seluruh proses tersebut memiliki landasan hukum yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia.

Siswa siswi juga memperoleh penjelasan mengenai proses pencetakan uang rupiah yang dilakukan oleh PERURI (Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia). Setelah dicetak, uang diserahkan kepada Bank Indonesia untuk kemudian diedarkan dan didistribusikan secara merata ke seluruh wilayah Indonesia melalui jaringan kas Bank Indonesia. Selain itu, dijelaskan pula mengenai ULE (Uang Layak Edar) dan UTLE (Uang Tidak Layak Edar). Uang yang sudah lusuh, rusak, atau tidak memenuhi standar kelayakan edar akan ditarik dan dimusnahkan oleh Bank Indonesia. Masyarakat juga dapat menukarkan uang rupiah yang rusak ke kantor Bank Indonesia apabila kondisi fisik uang masih tersisa minimal 75 persen dari ukuran aslinya.

Bank Indonesia juga menjelaskan bahwa uang rupiah yang telah dicabut dan ditarik dari peredaran masih dapat ditukarkan dalam jangka waktu tertentu. Jika penukaran dilakukan sebelum batas waktu 10 tahun sejak pencabutan, masyarakat akan memperoleh penggantian dengan nominal yang sama menggunakan emisi terbaru. Namun, setelah melewati batas waktu tersebut, uang tetap dapat diserahkan kepada Bank Indonesia tetapi tidak lagi memperoleh penggantian. Pihak yang berhak mengklaim uang itu palsu adalah polisi beserta tim dan BI.

Penyampaian Materi oleh Pihak Bank Indonesia

Pada kesempatan ini diperkenalkan pula kampanye “Cinta, Bangga, Paham Rupiah”. Melalui kampanye tersebut, masyarakat diajak untuk mencintai rupiah dengan merawatnya, bangga menggunakan rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa, serta memahami fungsi dan perannya dalam perekonomian Indonesia. Rupiah dirancang sepenuh hati dengan menampilkan tokoh pahlawan nasional, kekayaan budaya Nusantara, serta berbagai unsur keindahan Indonesia yang mencerminkan persatuan dalam keberagaman. Peserta juga diajak mengenal sejarah perkembangan mata uang yang pernah digunakan di Nusantara, mulai dari masa kerajaan, kolonial, hingga pendudukan Jepang, hingga lahirnya rupiah sebagai mata uang resmi Republik Indonesia.

Materi kedua mengenai Digitalisasi Sistem Pembayaran disampaikan oleh Ibu Vina Dwi K. Pada sesi ini peserta diperkenalkan dengan perkembangan transaksi digital yang semakin pesat, termasuk penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai standar pembayaran digital nasional yang memudahkan transaksi antar penyedia layanan pembayaran. Dikenalkan juga macam macam QRIS seperti QRIS MPM, QRIS CPM, QRIS NFC, QRIS TAP, dll.

Untuk meningkatkan keamanan transaksi digital, Bank Indonesia juga memperkenalkan prinsip PEKA (Peduli, Kenali, Adukan). Melalui prinsip ini, masyarakat diimbau untuk selalu peduli terhadap keamanan data pribadi seperti tidak membagikan kode OTP kepada org lain, mengenali berbagai modus penipuan digital, serta segera mengadukan apabila menemukan indikasi tindak kejahatan atau penyalahgunaan layanan keuangan digital.

Penyampaian Materi oleh Pihak Bank Indonesia

Selain itu, dijelaskan pula berbagai instrumen pembayaran non-tunai yang saat ini banyak digunakan masyarakat, seperti kartu debit, kartu kredit, mobile banking, dan berbagai layanan pembayaran digital lainnya yang mendukung transaksi menjadi lebih cepat, mudah, dan aman.

“Sangat amat penting menanamkan bagaimana cara mengungkapkan cinta terhadap rupiah kepada siswa-siswi MAN Surabaya, baik dari segi uang kartal, giral, maupun digital. Selain itu, perlu diberikan edukasi mengenai tahapan dan cara agar aman dari tipuan digital. Menanamkan cinta, bangga, dan paham rupiah sangat penting karena dapat menumbuhkan wawasan ekonomi. Dengan demikian, selain mengetahui berbagai isu yang ada, mereka juga memahami dampak-dampak yang ditimbulkannya.Kita harus sesering mungkin melakukan literasi terhadap rupiah, mulai dari prosesnya dan berbagai aspek yang terkait dengannya. Dengan mencintai rupiah dan memahami fungsinya, kehidupan yang kita jalani sehari-hari dapat terstruktur dengan baik,” ujar bapak Priyambodo.

“Banyak sekali pengetahuan yang saya dapat dari seminar ini, yaitu dari bidang PUR yang ternyata memiliki 6 tahapan. Kemudian, ada materi mengenai digitalisasi sistem pembayaran seperti QRIS dan e-wallet lainnya. Bagi Gen Z, hal ini juga sangat penting dan merupakan kesempatan yang langka yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin, karena kita dapat mengetahui bagaimana langkah-langkah untuk menghindari penipuan yang sangat mudah dilakukan di era digital ini,” ucap Abraham, siswa kelas X-E.

Kegiatan BI Mengajar berlangsung dengan interaktif melalui sesi tanya jawab antara peserta dan narasumber. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap materi yang disampaikan. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa MAN Kota Surabaya dapat semakin memahami pentingnya pengelolaan keuangan, penggunaan rupiah secara bijak.

Sesi Interaktif Tanya Jawab

Acara diakhiri dengan diadakannya post test untuk mengukur seberapa paham siswa siswi MAN Kota Surabaya setelah mendapat pengetahuan terkait materi yang disampaikan oleh tim Bank Indonesia.

Kepenulisan: Anniy (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Reportase: Safina, Daffa (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Dokumentasi: Iqbal, Nasywa (Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya)

Editor: Tim Jurnalistik MAN Kota Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *